Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Kepemimpinan Dyah Suhita, Perempuan Terakhir di Tahta Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:37 WIB
Kisah Kepemimpinan Dyah Suhita, Perempuan Terakhir di Tahta Kerajaan Majapahit
Kisah Kepemimpinan Dyah Suhita, Perempuan Terakhir di Tahta Kerajaan Majapahit

 

RADAR MAJAPAHIT -  Dalam sejarah Kerajaan Majapahit yang berdiri sejak abad ke-13, Kerajaan Majapahit sempat dipimpin oleh dua ratu. Yakni Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Ratu Dyah Suhita.

Tribhuwana Tunggadewi adalah pemimpin ketiga Majapahit pada tahun 1328-1350. Tribhuwana Tunggadewi merupakan putri dari Raden Wijaya dengan permaisurinya Gayatri Rajapatni.

Selain Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Suhita, terdapat satu sosok perempuan yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit yakni, Kusumawardhani putri dari Hayam Wuruk.

Kusumawardhani merupakan istri dari Wikramawardhana yang juga pernah memimpin Kerajaan Majapahit menggantikan Hayam Wuruk.

Diangkatnya menjadi pemimpin di Kerajaan Majapahit, tak lepas dari kerusuhan yang terjadi di Majapahit setelah perginya Hayam Wuruk. Terjadi persaingan politik yang cukup sengit dalam proses pergantian pemimpin.

Setelah kepergian Raja Hayam Wuruk, telah tercatat yang menjadi raja selanjutnya adalah Wikramawardhana, selaku keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk.

Setelah mengetahui yang terpilih menjadi pemimpin yakni Wikramawardhana, Bhre Wirabumi selaku putra Hayam Wuruk tidak terima dan melakukan perlawanan, hal tersebut yang mengakibatkan perang dari sesama kalangan anggota istana yang dikenal dengan nama Perang Paregreg yang terjadi pada tahun 1404. Terjadinya perang paregreg tersebut, yang menjadikan salah satu faktor utama kemunduran Kerajaan Majapahit.

Sebelum Hayam Wuruk wafat, ia telah memprediksi bakal terjadi perselisihan. Maka dari itu Raja Hayam Wuruk memutuskan setelah kepergiannya, wilayah kerajaan akan dibagi dua.

Dari keputusan tersebut, dibagi lah dua wilayah dimana ada wilayah timur yakni Blambangan yang diserahkan kepada Bhre Wirabumi, putra kandung Hayam Wuruk dari istri selir. Sedangkan di bagian Barat atau pusat Majapahit yakni Trowulan, diserahkan kepada Kusumawardhani, istri dari Wikramawardhana.

Namun, menurut Bhre Wirabumi, Wikramawardhana tidak pantas mendapatkan bagian tersebut dan dinobatkan sebagai Raja. Menurut Bhre Wirabumi, dia lah yang paling layak untuk menjadi penguasa Majapahit karena ia merupakan anak kandung Hayam Wuruk. Bhre Wirabumi juga tidak terima bahwa ia diberi bagian luar pusat kerajaan.

Namun, dari kubu Kusumawardhani banyak yang mengatakan bahwa Bhre Wirabumi bukanlah putra mahkota, melainkan putra dari selir. Tetapi, Kusumawardhani tidak mau menjadi penerus sang ayah hingga akhirnya, Dewan Penasihat Agung Kerajaan, Sapta Prabu mengutus Wikramawardhana, selaku suami dari Kusumawardhani untuk menjadi penerus Raja Hayam Wuruk.

Karena menurut Sapta Prabu, Wikramawardhana yang pantas untuk duduk di singgasana karena ia masih termasuk keluarga raja, yang merupakan putra dari adik Raja Hayam Wuruk.

Saat Wikramawardhana menjadi raja, ia sempat meninggalkan kerajaan untuk bertapa dan digantikan oleh istrinya, Kusumawardhani untuk memimpin Kerajaan. Namun, saat istrinya wafat, Wikramawardhana kembali ke istana dan kembali memimpin kerajaan pada tahun 1401. Setelah kepergian Kusumawardhani, perseteruan dengan Bhre Wirabumi pun dimulai.

Perseteruan tersebut tidak dapat dihilangkan. Dua kubu yang masih memiliki ikatan keluarga satu sama lain saling menyerang dalam pertempuran. Kemudian muncullah Dyah Suhita, yang masih memiliki hubungan erat dengan kedua kubu tersebut.

Dyah Suhita merupakan putri dari Wikramawardhana dengan selirnya yakni Bhre Daha. Dyah Suhita merupakan istri dari Aji Ratnapangkaja, keponakan dari Wikramawardhana salah satu panglima yang ikut menyerang pasukan Bhre Wirabumi.

Dari pertempuran perang paregreg berhasil dimenangkan oleh Wikramawardhana, yang menjadikan seluruh wilayah Majapahit dikuasai oleh Wikramawardhana.

Di tahun 1428, Wikramawardhana wafat dan sempat mengalami kebingungan untuk mencari siapa penerus pemimpin Kerajaan Majapahit.

Berdasarkan Kitab Pararaton, Wikramawardhana sempat memilih Rajakusuma atau Hyang Wekasing, anak dari Kusumawardhani untuk menjadi penerusnya namun, putra mahkota tersebut meninggal diusia muda. Selain itu, terdapat pula anak laki-laki dari istri selir, Bhre Tumapel juga meninggal di usia muda.

Keturunan Wikramawardhana tinggal Dyah Suhita dan Bhre Kertawijaya yang merupakan anak dari istri selir semua. Setelah kepergian Wikramawardhana, ditunjuklah Dyah Suhita sebagai penerus pemimpin kerajaan setelah Wikramawardhana. Dyah Suhita dipilih menjadi penerus pemimpin karena usianya lebih tua dari Kertawijaya.

Namun, Slamet Muljana mengungkapkan hal yang berbeda. Menurutnya, Dyah Suhita pantas menjadi penerus pemimpin kerajaan karena ia meyakini Dyah Suhita adalah putri dari Wikramawardhana dengan Kusumawardhani. Ia juga menyebutkan bahwa Bhre Tumapel dan Kertawijaya tidak berhak menjadi penerus pemimpin kerajaan karena mereka merupakan anak dari istri selir.

Dyah Suhita diangkat menjadi ratu pada tahun 1429. Ada yang menyebutkan bahwa Dyah Suhita dan Ratu Kencanawungu adalah orang yang sama. Dyah Suhita dan suaminya, Ratnapangkaja dukup lama memerintah kerajaan Majapahit.

Selama masa pemerintahannya, Dyah Suhita berhasil menghidupkan kembali kearifan lokal yang sempat terabaikan saat terjadi perang paregreg sebelum ia bertahta.

Menurut R. Soekmono melalui Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 ia menuliskan, masa kepemimpinan Dyah Suhita ditandai dengan kembalinya unsur-unsur budaya Nusantara ke dalam kekuasaan Majapahit.

Pada masa itu, banyak tempat ibadah dibangun di lereng gunung, dan bangunan-bangunan seperti candi disusun menyerupai punden berundak, contohnya di lereng Gunung Penanggungan, Gunung Lawu, dan lokasi lainnya.

Dyah Suhita wafat pada tahun 1447, dikarenakan pasangan Dyah Suhita dan Ratnapangkaja tidak dikaruniai anak, maka yang diutus menjadi penguasa Majapahit selanjutnya yakni Kertawijaya, adik dari Dyah Suhita.

Kertawijaya merupakan Raja Majapahit yang memulai menggunakan nama Brawijaya, dengan maksud pengingat dari Raden Wijaya.

 

Dyah Suhita merupakana ratu terakhir yang memimpin Kerajaan Majapahit setelah Tribhuwana Tunggadewi, Setelah kepergian Dyah Suhita hingga Nusantara beralih menjadi Indonesia, daerah provinsi Jawa Timur, belum ada lagi pemimpin perempuan setelah Dyah Suhita.AINI

 

Editor : Imron Arlado
#dyah suhita #Tribhuwana Tunggadewi #Bhre Wirabumi #hayam wuruk #perang paregreg #Gayatri Rajapatni #perempuan terakhir #kerajaan majapahit