Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Hilangnya Keraton Majapahit Bagaikan Teka-Teki yang Belum Terpecahkan Hingga Kini, Baca Selengkapnya

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:38 WIB
Hilangnya Keraton Majapahit Bagaikan Teka-Teki yang Belum Terpecahkan Hingga Kini, Baca Selengkapnya
Hilangnya Keraton Majapahit Bagaikan Teka-Teki yang Belum Terpecahkan Hingga Kini, Baca Selengkapnya

RADAR MAJAPAHIT – Hilangnya Keraton Majapahit bagaikan teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini. Para sejarawan dan arkeolog berlomba-lomba mengungkap dimana persisnya istana megah itu pernah berdiri. Catatan sejarah hanya menunjuk Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, sebagai pusat pemerintahan Majapahit. Namun, bukti fisik tentang keberadaan keratonnya masih menjadi misteri. Seolah-olah, istana itu lenyap ditelan waktu.

 

Para arkeolog umumnya sepakat bahwa Keraton Majapahit berdiri di pusat pemerintahan kerajaan tersebut. Mengenai lokasi ibu kota Majapahit, terdapat dua pendapat, namun mayoritas arkeolog menyetujui bahwa Trowulan adalah tempatnya. Pendapat ini didukung kuat oleh berbagai temuan arkeologis yang berkaitan dengan peninggalan Majapahit di kawasan tersebut

Padahal, Majapahit pernah menjadi kerajaan terbesar di Nusantara, dengan wilayah kekuasaan yang membentang hingga Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia dan Brunei), Tumasik (Singapura), serta sebagian wilayah Thailand dan Filipina.

 

Majapahit dikenal sebagai salah satu kekaisaran terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca, disebutkan bahwa Keraton Majapahit dikelilingi tembok tinggi dan tebal yang terbuat dari batu bata merah.

 

Keindahan arsitektur kompleks ini terlihat dari berbagai bangunan yang ada di dalamnya, mulai dari kediaman raja, tempat ibadah, rumah pejabat kerajaan, hingga tempat tinggal para abdi dalem. Di kompleks tersebut juga terdapat pendopo, yang digunakan sebagai ruang pertemuan antara raja dan para bawahannya, serta bangunan khusus yang diperuntukkan bagi para pujangga istana.

Keamanan keraton dijaga dengan sangat ketat. Hal ini tercermin dari adanya dua lapis pintu gerbang yang kokoh: gerbang pertama membawa pengunjung masuk ke kawasan keraton, sedangkan gerbang kedua menjadi akses menuju kediaman pribadi raja dan keluarganya.Dimanakah Keraton Majapahit

 

Bagaimana Hilangnya Keraton Majapahit

Hilangnya kerajaan ini masih menyisakan tanda tanya besar hingga kini. Terdapat beberapa teori yang mencoba menjelaskan lenyapnya Keraton Majapahit.

 

Salah satu pendapat menyebutkan bahwa bahan utama pembangunan keraton berasal dari material organik, seperti kayu, yang mudah mengalami pelapukan. Berbeda dengan candi-candi yang dibangun dari batu alam dan mampu bertahan hingga berabad-abad, bangunan dari bahan organik tidak mampu bertahan lama sehingga jejak fisiknya sulit ditemukan.

 

Kedua, Pendapat lain menyatakan bahwa hilangnya bangunan Keraton Majapahit disebabkan oleh bencana alam. Teori ini beranggapan bahwa keraton tersebut mungkin terkubur oleh abu vulkanik akibat letusan gunung berapi, mengingat wilayah Jawa Timur dikenal memiliki banyak gunung aktif. Ada pula yang berpendapat bahwa keraton tersebut tertimbun oleh lumpur yang terbawa aliran sungai, yang mengangkut material lahar dari gunung yang meletus.

 

 

Ketiga, teori lainnya menyebutkan bahwa kehancuran Keraton Majapahit disebabkan oleh konflik internal dan serangan dari kerajaan lain. Dalam Babad Tanah Jawa diceritakan bahwa sekitar abad ke-15, Majapahit diserang oleh Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V. Serangan ini dikisahkan menghancurkan ibu kota Majapahit, termasuk keratonnya.

Namun, pendapat ini dipertanyakan oleh sejumlah ahli. Mereka berpendapat bahwa Babad Tanah Jawa merupakan karya yang dipengaruhi oleh kolonial Belanda, yang sengaja dibuat untuk memecah belah antara kaum Islam dan Hindu-Buddha.

Keempat, menurut Atmodarminto, kehancuran Majapahit disebabkan oleh serangan militer dari wilayah Kediri yang dipimpin oleh Girindrawardhana. Serangan ini berlangsung cukup lama dan akhirnya dimenangkan oleh Kediri, sehingga Girindrawardhana naik tahta sebagai penguasa Majapahit. Namun, keberhasilannya ini justru memicu serangan dari Demak, yang menganggap Girindrawardhana sebagai penguasa tidak sah dan berusaha menumbangkannya.

Selain ancaman dari luar, Majapahit juga sudah mengalami kerusakan dari dalam. Sejak wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, korupsi semakin merajalela dan perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan makin parah. Kekacauan internal ini membuat Keraton Majapahit rentan terhadap penghancuran, pemberontakan, serta serangan dari kerajaan lain.

 

Kelima, terjadi penjarahan ilegal pada masa penjajahan kolonial. Dalam sebuah laporan Belanda yang tercatat, sekitar tahun 1800 Masehi, wilayah Trowulan kehilangan sekitar 5 juta kubik tanah akibat aktivitas penggalian ilegal yang dilakukan oleh para pemburu artefak dari kerajaan Majapahit. Diduga, banyak peninggalan berharga dari Majapahit yang dicuri pada masa tersebut.

Keenam, terdapat pendapat bahwa Keraton Majapahit melakukan moksa. Meskipun pandangan ini mungkin tidak berlandaskan pada bukti ilmiah, banyak sejarawan, terutama di Indonesia, yang berpendapat bahwa jika suatu peristiwa belum ditemukan penyebab yang jelas, maka bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh faktor X. Faktor X ini dianggap sebagai sesuatu yang bersifat gaib dan berada di luar kemampuan indera manusia untuk merasakannya. Beberapa orang meyakini bahwa Keraton Majapahit sengaja dimoksa dan dihilangkan oleh makhluk gaib dengan tujuan agar kelestarian keraton tetap terjaga di alam lain, terlindung dari tangan-tangan jahil manusia. BILLA

 

Editor : Imron Arlado
#gunung meletus #Tanah Jawa #catatan sejarah #peninggalan majapahit #majapahit #trowulan #bencana alam #Kediaman Pribadi #kerajaan majapahit