Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pertikaian Antara Saudara Pasca Wafatnya Raja Hayam Wuruk, Tragedi Perang Paregreg Berawal dari Terbaginya Wilayah Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:36 WIB
Pertikaian Antara Saudara Pasca Wafatnya Raja Hayam Wuruk, Tragedi Perang Paregreg Berawal dari Terbaginya Wilayah Kerajaan Majapahit
Pertikaian Antara Saudara Pasca Wafatnya Raja Hayam Wuruk, Tragedi Perang Paregreg Berawal dari Terbaginya Wilayah Kerajaan Majapahit

RADAR MAJAPAHIT – Salah satu peristiwa besar Kerajaan Majapahit terjadi antara 1404-1406 yakni tragedi Perang Paregreg yang berawal dari terbaginya wilayah Majapahit.

Pembagian wilayah Kerajaan Majapahit terdiri menjadi dua bagian yaitu istana sisi barat dan sisi timur.

Wilayah-wilayah tersebut sudah terbagi sejak masa Raden Wijaya setelah Perjanjian Songeneb pasca pemberontakan Rangga Lawe. Kemudian, wilayah tersebut sukses disatukan kembali oleh Jayanegara dan menjadikan sebuah kerajaan yang amat kuat.

Namun, Kerajaan Majapahit kembali mengalami perpecahan terbagi menjadi dua di akhir pemerintahan Hayam Wuruk. Hal ini yang membuat terjadinya Perang Paregreg.

Perang Paregreg berlangsung selama dua tahun dan diyakini menjadi salah satu penyebab hancurnya Kerajaan Majapahit.

Setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit melalui begitu banyak masalah perebutan tahta pemerintahan yang dilakukan oleh para penguasa daerah, tidak sedikit mereka juga termasuk kerabat raja.

 

Baca Juga: Keris Era Majapahit Dibuat Dengan Besi Impor Dari Sulawesi, Kerahkan Utusan Khusus Untuk Cari Bahan Baku

 

Perang Paregreg berasal dari bahasa Jawa Kuna yang memiliki makna peperangan yang terjadi dalam beberapa tahap, sesuai dengan penjelasan tentang berlangsungnya perang selama dua tahun yakni 1404 hingga 1406.

Kemenangannya pun silih berganti karena perang tersebut juga bertahap. Kemenangan terkadang dipegang istana barat begitupun berganti ke istana timur.

Dalam informasi ini akan dikupas menceritakan asal mula terjadinya hingga apa dampak dari Perang Paregreg.

 

 

Histori Perang Paregreg

Berdasarkan kitab Pararaton, perang ini terjadi saat munculnya sebuah Keraton baru di Pemotang terletak pada sisi timur Kerajaan Majapahit tahun 1376. Keraton tersebut dipimpin oleh Bhre Wengker atau Wijayarajasa yang merupakan suami dari Rajadewi (bibi Raja Hayam Wuruk), ia ingin menjadi raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk.

Setelah Wijayarajasa wafat Keraton tersebut diberikan kepada Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari seorang selir sekaligus suami dari cucunya Wijayarajasa) secara tidak langsung Bhre Wirabhumi pemimpin istana timur Kerajaan Majapahit.

Sementara tahta Hayam Wuruk yakni istana sisi barat diserahkan kepada menantunya yakni Wikramawardhana sebagai pemimpin.

Ketegangan dan pertikaian kedua istana terjadi setelah Nagarawardhani (istri Bhre Wirabhumi) diangkat menjadi Bhre (Adipati) Lasem.

 

Baca Juga: Pembuatan Keris Era Majapahit Ternyata Terinspirasi dari Belati Penikam, Diproses Dengan Ditempa Cor Logam

 

Tidak mau kalah dengan istana timur, Wikramawardhana juga menjadikan istrinya yakni Kusumawardhani menjadi Bhre Lasem.

Tak lama kemudian, baik Nagarawardhani dan Kusumawardhani meninggal dunia sekitar tahun 1400.

Oleh karena itu Wikramawardhana mengangkat sang menantu istri dari Bhre Tumapel sebagai Bhre Lasem.

Pengangkatan tersebut sayangnya tidak diterima dengan baik, malah memicu pertikaian hebat antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana. Akibatnya, meletuslah Perang Paregreg yang berlangsung dari tahun 1404 hingga 1406. 

Selama dua tahun perang itu, kemenangan silih berganti diraih oleh istana barat dan istana timur. Namun pada tahun 1406, Perang Paregreg akhirnya dimenangkan oleh istana barat di bawah kepemimpinan Bhre Tumapel, putra Wikramawardhana, yang berhasil menguasai istana timur. Dalam pertempuran tersebut, Bhre Wirabhumi, pemimpin istana timur, gugur. 

Perang Paregreg sendiri dipicu oleh memuncaknya perselisihan antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana. Nama "Paregreg" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti "bertahap" 

 

Meskipun peperangan telah berakhir, dampak dari konflik antara kedua istana itu tetap meninggalkan luka besar sekaligus menjadi kemunduran bagi Kerajaan Majapahit.

Meskipun Perang Paregreg hanya berlangsung selama dua tahun, dampak yang ditimbulkan sangat besar. Korban jiwa tidak hanya berasal dari pasukan yang terlibat dalam pertempuran, tetapi juga mencakup orang-orang asing, terutama dari Tiongkok.

 

Baca Juga: Mengenal Mahapatih Gajah Mada, Panglima Perang yang Berpengaruh di Masa Kejayaan Majapahit

 

Banyaknya korban dari pihak asing ini menimbulkan konsekuensi serius bagi Majapahit. Raja Wikramawardhana pun terpaksa membayar ganti rugi dalam jumlah besar kepada pihak Tiongkok sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Sayangnya, kewajiban tersebut datang di tengah kondisi ekonomi Majapahit yang sudah memburuk akibat beban berat peperangan yang berlangsung. Situasi ini semakin mempercepat kemunduran kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara tersebut. TASYA

 

 

Editor : Imron Arlado
#Bhre Wirabhumi #Raden Wijaya #hayam wuruk #perang paregreg #sisi barat #perjanjian songeneb #kerajaan majapahit #Jayanegara #Wikramawardhana #peristiwa besar