JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dibalik kisah kejayaan Majapahit, ternyata dibaliknya tersimpan sebuah kisah yang penuh gejolak. Pembagian wilayah pada era Raden Wijaya menjadi salah satu momen penting yang mempengaruhi perjalanan Kerajaan Majapahit.
Pembagian kekuasaan kepada Aria Wiraraja pada awalnya menciptakan dua kekuatan besar dalam kerajaan. Namun, pembagian ini menjadi cikal bakal ketegangan internal beberapa dekade setelahnya – masa setelah pemerintahan Hayam Wuruk.
Pembagian Wilayah Majapahit di Era Raden Wijaya
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 setelah berhasil mengalahkan Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Kesuksesan Raden Wijaya tidak terlepas dari bantuan penting yang diberikan oleh Aria Wiraraja, seorang penguasa Madura yang setia mendukungnya.
Sebagai balas jasa atas kesetiaan dan dukungannya dalam merebut tahta, Raden Wijaya memberikan kekuasaan atas sebagian wilayah Majapahit kepada Aria Wiraraja.
Aria Wiraraja kemudian diangkat sebagai penguasa wilayah Lamajang Tigang Juru pada tahun 1294 (setahun setelah berdirinya Majapahit), yang merupakan bagian penting dari Majapahit Wetan (timur). Wilayah yang dikuasainya meliputi daerah-daerah strategis seperti Lumajang, Situbondo, Blambangan, Madura, dan Bali, dengan pusat pemerintahan di Lamajang.
Pemberian kekuasaan ini menandai awal dari pembagian kekuasaan dalam kerajaan yang baru berdiri ini, di mana Majapahit Kulon (barat) berada di bawah kendali Raden Wijaya, sedangkan Majapahit Wetan berada di bawah Aria Wiraraja dan keturunannya.
Pembagian wilayah ini memiliki dampak besar terhadap struktur politik Majapahit. Hubungan antara wilayah barat dan timur berjalan dengan damai. Kedua wilayah ini tetap berada di bawah satu kedaulatan pemerintahan raja pusat, yakni Raden Wijaya.
Majapahit Kulon yang dipimpin oleh Raden Wijaya fokus pada Pembangunan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan, sedangkan Aria Wiraraja mengelola wilayah timur yang kaya akan sumber daya alam yang berpotensi besar dalam pengembangan ekonomi kerajaan.
Ketegangan dan Perpecahan Setelah Wafatnya Hayam Wuruk
Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Kerajaan Majapahit mulai mengalami keretakan yang mendalam, yang akhirnya mengarah pada pembagian wilayah yang lebih jelas antara wilayah barat dan timur Majapahit.
Permusuhan dipicu oleh masalah suksesi atau pewarisan tahta. Hayam Wuruk bersama permaisurinya, Sri Sudewi memiliki putri bernama Kusumawardhani yang menikah dengan sepupunya sendiri, Wikramawardhana, yang secara garis keturunan lebih berhak untuk meneruskan kepemimpinan dari Hayam Wuruk.
Namun, masalah muncul ketika diketahui bahwa Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selir bernama Bhre Wirabhumi. Meskipun Wirabhumi tidak memiliki kedudukan resmi dalam garis pewarisan tahta, ia merasa berhak atas tahta Majapahit dan menuntut haknya.
Ketegangan antara kedua belah pihak pun muncul, pembagian wilayah yang ada semakin memperburuk situasi, dengan masing-masing pihak yang berusaha untuk memperkuat posisinya – Raja Wikramawardhana di Majapahit Barat dan Bhre Wirabhumi di bagian Timur.
Pada akhirnya, ketegangan ini meledak menjadi Perang Paregreg, sebuah perang saudara besar yang menjadi salah satu faktor terbesar kemunduran kejayaan Majapahit. NESTYA
Editor : Imron Arlado