RADAR MAJAPAHIT – Setelah berdiri kurang lebih 200 tahun, kekuasaan Majapahit mulai melemah usai Hayam Wuruk meninggal dunia pada tahun 1389.
Menjadi kerajaan Hindu terbesar dan paling berpengaruh di Jawa, kejayaan Majapahit menjadi salah satu bukti penting dari puncak peradaban masyarakat Jawa pada masa itu.
Meski Kerajaan Majapahit pernah mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kerajaan ini akhirnya mengalami kemunduran.
Kemunduran Majapahit dipicu oleh sejumlah hal, beberapa faktor yang menjadi penyebab runtuhnya kerajaan ini di antaranya:
Kematian Patih Gajah Mada
Sebagai mahapatih yang membawa Majapahit ke puncak kejayaan melalui Sumpah Palapa, kepergian Patih Gajah Mada menciptakan kekosongan kepemimpinan.
Penerusnya tak mampu menyamai wibawa dan pengaruhnya, sehingga stabilitas politik terguncang. Lemahnya pemerintahan pusat, konflik internal, dan perebutan kekuasaan mempercepat kemunduran Majapahit hingga akhirnya runtuh.
Kematian Hayam Wuruk
Wafatnya Hayam Wuruk menjadi titik penting dalam runtuhnya Majapahit. Bersama Mahapatih Gajah Mada, ia membawa Majapahit mencapai kejayaan dan menguasai hampir seluruh Nusantara.
Namun, setelah Hayam Wuruk meninggal, muncul krisis suksesi yang memunculkan perebutan kekuasaan. Pemerintahan Wikramawardhana diwarnai konflik internal dan ketegangan politik, yang membuat otoritas pusat melemah. Akibatnya, wilayah-wilayah mulai melepaskan diri, memicu perpecahan yang berujung pada runtuhnya Majapahit.
Perang Saudara
Perang saudara, yang dikenal sebagai Perang Paregreg, dipicu oleh persaingan suksesi setelah kematian Hayam Wuruk, yang meninggalkan dua wasiat untuk pewaris tahta. Ia menunjuk menantunya, Wikramawardhana, sebagai penerus sah. Namun juga memberi hak kepada Bhre Wirabhumi, putra dari selirnya, untuk menguasai wilayah timur Jawa.
Setelah Hayam Wuruk wafat, pertikaian antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi pecah. Wikramawardhana mengklaim dirinya sebagai pewaris yang sah, sementara Wirabhumi, sebagai putra kandung, merasa berhak atas tahta tersebut. Perang saudara ini berakhir dengan kematian Wirabhumi, namun ketegangan internal tetap berlanjut, memecah belah kerajaan.
Kebangkitan Malaka
Salah satu faktor lain yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit adalah kebangkitan Malaka sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan, Kerajaan Malaka mengirimkan upeti kepada Majapahit.
Selain itu, Malaka juga mendorong masyarakat keturunan Persia, China, dan Tamil untuk bermigrasi ke sana dan melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Serangan dari Kerajaan Demak
Di tengah lemahnya pemerintahan akibat konflik internal dan perang saudara, Demak mengambil kesempatan untuk menyerang. Dipimpin oleh Patih Udara (1518) dan dilanjutkan oleh Sultan Trenggana (1527), menandai berakhirnya kekuasaan Majapahit.
Setelah itu, Raden Patah dari Demak mengklaim sebagai penerus Majapahit, dan berdirilah Kesultanan Demak. Peristiwa ini menjadi titik penting dalam peralihan kekuasaan serta memperkuat pengaruh Islam di Jawa dan sekitarnya.
Penyebaran Agama Islam
Agama Islam mulai mempengaruhi Kerajaan Majapahit yang pada awalnya menganut Hindu.
Kerajaan Majapahit yang tengah menghadapi keruntuhan akibat konflik internal membuat masyarakat lebih terbuka terhadap pengaruh Islam. Hal ini menjadi salah satu penyebab kemunduran kerajaan tersebut.
Islam menyebar ke Jawa melalui berbagai jalur, seperti perdagangan oleh pedagang Muslim, pernikahan, kepercayaan, dan juga melalui seni.
FITRI
Editor : Imron Arlado