Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Mengenal Mahapatih Gajah Mada, Panglima Perang yang Berpengaruh di Masa Kejayaan Majapahit

Imron Arlado • Sabtu, 26 April 2025 | 01:52 WIB
Mengenal Mahapatih Gajah Mada, Panglima Perang yang Berpengaruh di Masa Kejayaan Majapahit
Mengenal Mahapatih Gajah Mada, Panglima Perang yang Berpengaruh di Masa Kejayaan Majapahit

RADAR MAJAPAHIT – Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 tentunya tidak lepas dari peran sang panglima perang yang dijuluki Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada atau dengan nama lain Jirnnodhara merupakan panglima perang dan Mapatih yang berpengaruh pada masa Kerajaan Majapahit.

Menurut beberapa sumber kitab, prasasti dan puisi Jawa Kuno Gajah Mada mengawali karir pada tahun 1313. Setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti (anggota Dharmaputra) karirnya semakin meningkat pada masa pemerintahan Raja Sri Jayanagara.

Pada masa pemerintahan Ratu Tribuana Wijaya Tungga Dewi, Gajah Mada diangkat menjadi patih (perdana menteri). Karirnya berlanjut hingga masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk yang mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan.

Gajah Mada dikenal dengan sumpah Palapa yang tercatat dalam Pararaton (kitab raja-raja). Ia bersumpah tidak akan istirahat atau bersenang-senang sebelum berhasil menaklukkan Nusantara.

 

 

Isi Sumpah Palapa

Ketika diangkat menjadi Patih Amangkubhumi pada tahun 1334 M, Gajah Mada mengucap Sumpah Palapa yang menyatakan bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara.

Bunyi Sumpah Palapa:

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahan Sumpah Palapa

“Jika sudah takluk Nusantara, aku amukti palapa. Jika [sudah] takluk Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa”.

Menurut sejarawan amukti palapa diartikan sebagai “menikmati suatu keadaan dimana segalanya bisa diambil” atau lebih sederhana “menikmati kesenangan”. Menurut sejarawan lain dimaknai sebagai “menikmati istirahat”.

Palapa merupakan sejenis rempah-rempah yang sangat berharga pada masa itu, sehingga sumpah palapa dapat dikatakan bahwa Gajah Mada berjanji untuk tidak memakan palapa atau makanan enak lainnya.

Sumpah ini menunjukkan pengabdian dan komitmen Gajah Mada yang rela menunda kesenangan pribadinya, untuk mencapai tujuan dalam memperluas wilayah kekuasaan Majapahit.

 

Asal Usul Mahapatih Gajah Mada

Meskipun Gajah Mada merupakan salah satu tokoh penting pada masa itu, namun tidak banyak catatan-catatan yang ditemukan dalam sejarah. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada masih menjadi perbincangan yang kontroversial.

Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada, sedangkan Gajah merupakan simbol kekuatan yang kemungkinan menjadi julukan saat menjabat sebagai patih. Sebelumnya, ia hanya orang biasa yang naik menjadi kepala pasukan Bhayangkara (pengawal Raja) pada masa Prabu Jayanagara (1309 - 1328).

 

 

Namun, sumber lain mengatakan terdapat prasasti yang menjelaskan bahwa Gajah Mada masih memiliki hubungan darah dengan Raja Kartanagara. Ayah Gajah Mada mungkin bernama Gajah Pagon yang kemungkinan besar anak dari salah satu selir Kartanagara.

Gajah Pagon yang terluka saat mendampingi Raden Wijaya dititipkan kepada seorang kepala desa Pandakan. Sangat mungkin bahwa Gajah Pagon selamat dan menikah dengan putri kepala desa yang akhirnya memiliki anak Gajah Mada. IZZAH

Editor : Imron Arlado
#asal usul #Raden Wijaya #mahapatih gajah mada #Raja Sri Jayanagara #bhayangkara #Sumpah Palapa #Tribuana Wijaya Tungga Dewi #panglima perang #raja hayam wuruk #kerajaan majapahit