RADAR MAJAPAHIT – Majapahit, sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara, mencapai masa keemasannya di bawah kepemimpinan para raja yang bijaksana.
Namun dibalik kejayaannya, sejarah mencatat pula masa-masa senja yang tragis, salah satunya ketika kekuasaan berada di tangan Raja Brawijaya V.
Ia dikenal sebagai raja terakhir Majapahit yang memimpin di tengah guncangan politik, pergeseran budaya, dan mulai masuknya pengaruh Islam yang kuat ke tanah Jawa.
Dalam Serat Pararaton, Prabu Brawijaya kerap disebut sebagai Bhre Kertabumi. Namun, sejumlah pandangan sejarah menyebutkan kemungkinan lain, bahwa sosok Brawijaya V lebih tepat diidentifikasi sebagai Dyah Ranawijaya.
Ia adalah tokoh yang mengklaim kekuasaan atas Majapahit, Janggala, dan Kadiri setelah menaklukkan Bhre Kertabumi pada tahun 1486.
Baca Juga: Candi di Trowulan Mojokerto Ini Akan Segera Diekskavasi BPK Wilayah XI
Brawijaya V memerintah sekitar sepuluh tahun, yaitu pada periode 1468 hingga 1478 Masehi, sebelum akhirnya kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Disebutkan bahwa ia naik tahta menggantikan ayahnya, Prabu Bratanjung.
Brawijaya V memimpin sejak sebelum kelahiran putra sulungnya, Arya Damar, hingga akhirnya turun takhta akibat konflik internal yang terjadi di dalam kerajaan. Kepemimpinannya kemudian diteruskan oleh anaknya yang lain, Raden Patah, yang mendirikan Kesultanan Demak.
Hal menarik yang patut untuk diketahui tentang Brawijaya V adalah tentang sosoknya yang dikenal sebagai bapak dari raja-raja di Tanah Jawa.
Salah satu anak Prabu Brawijaya V yang paling terkenal adalah Raden Patah, yang lahir dari salah satu permaisuri Brawijaya V, dengan ibu yang konon merupakan seorang putri dari kerajaan Campa. Raden Patah di kemudian hari dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.
Selain Raden Patah, anak Prabu Brawijaya V lainnya yang tak kalah penting adalah Bondan Kajawan yang lahir dari selir yang bernama Wadan Kuning. Ia merupakan putra yang disembunyikan kelahirannya lalu dititipkan kepada Ki Ageng Tarub. Bondan Kejawan merupakan nenek moyang dari Panembahan Senopati yang menurunkan raja-raja Mataram.
Meski begitu, status Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit masih menjadi perdebatan. Sebab, nama "Brawijaya" tidak ditemukan dalam prasasti resmi yang mencantumkan nama-nama raja Majapahit.
Sebaliknya, raja terakhir yang tercatat dalam prasasti adalah Girindrawarddhana, yang memerintah antara tahun 1474 hingga 1519. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Brawijaya sebagai raja lebih banyak dikenal dari sumber-sumber tradisional seperti babad dan serat.
Mualaf Atas Bimbingan Sunan Kalijaga
Menjelang akhir masa pemerintahannya, Brawijaya V yang sebelumnya menganut agama Hindu dikisahkan memilih untuk memeluk agama Islam. Keputusan ini diambil setelah mendapatkan bimbingan spiritual dari Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa.
Alasan utama yang melatarbelakangi Brawijaya V mualaf adalah karena ia jatuh cinta pada Dewi Sari, putri dari Raja Cermain.
Keputusan Brawijaya V tidak serta merta diterima oleh para pengikutnya. Mereka yang menolak untuk memeluk agama islam memutuskan untuk pindah ke Pulau Bali.
Akhir Masa Pemerintahan Brawijaya V
Masa pemerintahannya diakhiri dengan serangan dari Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Serangan tersebut menandai runtuhnya Majapahit secara simbolis dan politik.
Setelah keruntuhan itu, Brawijaya V tidak tercatat mengalami kematian dalam medan perang. Sebaliknya, berbagai narasi menyebutkan bahwa ia memilih untuk mengasingkan diri ke Gunung Lawu dan menjalani pertapaan hingga mencapai moksa—sebuah kondisi spiritual dalam keyakinan Hindu-Buddha yang berarti pembebasan dari siklus kehidupan.
Di Gunung Lawu, terdapat tempat yang diyakini sebagai petilasan Prabu Brawijaya yang sekarang dikenal sebagai Pertapaan Bancolono.
Tempat ini hingga kini ramai dikunjungi peziarah yang menghormati sosoknya sebagai raja bijak yang memilih jalan damai di tengah kehancuran.
Sumber lain juga mengatakan bahwa Raja Brawijaya V wafat di Trowulan setelah kembali dari perjalanannya untuk menerima ajaran islam dari Sunan Kalijaga. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebelah timur Kolam Segaran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Baca Juga: Tak Cuma Hindu, Intip Kepercayaan Lain yang Hidup di Masa Majapahit
Atas wasiat dari Raja Brawijaya V, makamnya diberi nama Sastra Wulan dengan nisan yang diberi nama Putri Campa. Nama tersebut dipilih sebagai simbol kekalahannya, bukan oleh musuh, melainkan oleh putranya sendiri, Raden Patah.
Kisah Brawijaya V adalah refleksi dari sebuah transisi besar dalam sejarah Jawa: dari kerajaan Hindu-Buddha menuju era kesultanan Islam. Ia bukan hanya simbol dari akhir kejayaan Majapahit, tetapi juga jembatan yang menghubungkan dua zaman. NESTYA
Editor : Imron Arlado