RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai tempat berkembangnya berbagai kepercayaan. Di samping Hindu dan Buddha, terdapat pula ajaran resi, kepercayaan asli, hingga Islam.
Dalam kitab Negarakertagama dan sejumlah prasasti, tercatat keberadaan pejabat tinggi yang mengurusi urusan keagamaan. Jabatan dharmmadhyaksa ring kasaiwan bertanggung jawab atas agama Hindu aliran Saiwa, sementara dharmmadhyaksa ring kasogatan mengurus ajaran Buddha.
Saat menjalankan fungsi keagamaan, jabatan dharmmadhyaksa ring kasaiwan yang mengurusi agama Hindu-Saiwa mendapat dukungan dari lima pejabat pendamping, yakni samgat i Tirwan, Kandamuhi, Manghuri, Jambi, dan Pamwatan.
Sementara itu pejabat setingkat agama Buddha, dharmmadhyaksa ring kasogatan, hanya didampingi oleh dua orang, yakni samgat i Kandangan Atuha dan Kandangan Rare.
Perbedaan ini mencerminkan bahwa Hindu-Saiwa lebih dominan, terutama di kalangan elite Majapahit. Hal tersebut turut diperkuat oleh banyaknya peninggalan candi bercorak Hindu, seperti Candi Sumberjati (Simping), Rimbi, kompleks Panataran (Rabut Palah), Bangkal, Kali Cilik, Surawana, Tegawangi, Miri Gambar, dan Kesiman Tengah.
Sementara itu, peninggalan bercorak Buddha Mahayana antara lain Candi Jago, Sanggrahan, Bayalango, serta kemungkinan Candi Jabung.
Aktivitas spiritual kaum resi umumnya berlangsung di tempat bersifat karsyan seperti goa, contohnya Goa Selamangleng, Pasir, dan Tritis di Tulungagung.
Salah satu lokasi karsyan yang telah diketahui secara pasti adalah Pawitra, yang berada di Gunung Penanggungan. Di lokasi ini, ditemukan berbagai peninggalan purbakala dari periode Majapahit.
Ada pula sejumlah kitab keagamaan yang menggambarkan ajaran Hindu, seperti Arjunawijaya, Sudamala, Sri Tanjung, Korawasrama, dan Siwaratrikalpa.
Naskah Buddha yang disusun pada masa Majapahit antara lain Sutasoma dan Kunjarakarma, sementara kitab yang berhubungan dengan kaum resi yakni Tantu Panggelaran, Nirarthaprakrta, dan Bhubuksah-Gagangaking.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Agama Hindu menjadi agama yang paling banyak dianut oleh para penguasa dan kerabat kerajaan Majapahit. Agama Buddha meskipun ada, diperkirakan lebih sedikit pemeluknya.
Dalam Nagarakrtagama pupuh 37:3-6, Prapanca mencatat keluhan tentang adanya candi Buddha yang terbengkalai, mengindikasikan kurangnya perhatian terhadap agama ini, mungkin karena jumlah penganutnya yang lebih sedikit dibandingkan Hindu-Siwa.
Di sisi lain, kehidupan kaum resi atau pertapa di Majapahit lebih terbatas, dengan banyak dari mereka memilih untuk menarik diri dari dunia luar dan tinggal di tempat terpencil, seperti hutan atau gunung, di dalam kawasan mandala, karsyan, atau kadewaguruan. Mereka memilih jalan hidup jauh dari kehidupan duniawi.
Selain agama Hindu dan Buddha, kepercayaan asli diyakini masih ada di kalangan masyarakat Majapahit pedalaman yang terisolasi dari pengaruh besar peradaban Hindu-Buddha.
Menurut catatan Cina, masyarakat Jawa abad XIV terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah pedagang Cina yang hanya menetap sementara, dikenal bersih dalam berpakaian dan mengonsumsi makanan layak.
Kelompok kedua, Pedagang asing lain yang tinggal lebih lama dan memiliki perilaku yang baik juga. Kelompok ketiga, penduduk lokal yang hidup dalam kondisi yang tak higienis, mengonsumsi hewan-hewan seperti semut, ular dan serangga, serta hidup berdampingan dengan anjing. Mereka juga mempercayai dan memuja roh-roh halus dan menyerahkan mayat ke hutan agar dimakan binatang.
Penduduk asli Jawa itulah yang diperkirakan masih mempertahankan kepercayaan pra Hindu-Buddha, yang melanjutkan tradisi keagamaan dari masa prasejarah.
Bukti arkeologis yang mendukung hal tersebut ditemukan dalam arsitektur Candi Sukuh dan Ceta, yang mencerminkan pengaruh tradisi megalitik yang "dihindukan" pada abad XV. Beberapa prasasti, relief, dan arca yang menunjukkan jejak-jejak agama Hindu.
Lebih lanjut, pada masa Majapahit agama Islam mulai masuk ke wilayah pesisir utara Jawa, kemudian menyebar ke kota Majapahit. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penemuan nisan Islam di Troloyo, bagian selatan Trowulan, bertuliskan angka dengan tahun 1468 (makam Putri Campa) hingga 1611.
Sejumlah bangunan bersejarah di wilayah Majapahit menunjukkan ciri-ciri keagamaan yang kuat, terutama dari ajaran Hindu dan Buddha. Gapura Bajang Ratu, misalnya, diduga bercorak Hindu karena dihiasi relief cerita Sri Tanjung, yang mengangkat tokoh Ra Nini sebagai penjelmaan Dewi Uma sakti Siwa.
Patirtaan Tikus mencerminkan konsep kosmologi Gunung Mahameru, tempat para dewa diyakini bersemayam. Aliran air dari Mahameru ini dianggap sebagai air suci (amerta).
Sifat keagamaan juga terlihat di Candi Menakjingga, yang menampilkan relief Tantri Kamandaka semacam yang ditemukan di percandian Panataran, dan di Situs Gunung Gunung Penanggungan. Temuan relief Garuda di Candi Menakjingga yang kini disimpan di Museum Situs Trowulan, menjadi petunjuk kuat bahwa candi tersebut memiliki latar keagamaan Hindu.
Selain peninggalan keagamaan, banyak pula tinggalan purbakala lainnya yang bersifat profan, seperti ribuan pecahan keramik lokal dan asing, batu umpak, susunan tembok, serta mata uang.FITRI
Editor : Imron Arlado