Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Menelusuri Jejak Peninggalan Majapahit, Pesona Candi Tikus yang Tersembunyi di Bawah Tanah

Imron Arlado • Kamis, 24 April 2025 | 04:32 WIB
Menelusuri Jejak Peninggalan Majapahit, Pesona Candi Tikus yang Tersembunyi di Bawah Tanah
Menelusuri Jejak Peninggalan Majapahit, Pesona Candi Tikus yang Tersembunyi di Bawah Tanah

RADAR MAJAPAHIT– Beberapa situs warisan budaya peninggalan era Hindu-Buddha tersebar di wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto sendiri merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan sejumlah destinasi wisata bersejarahnya. Mojokerto juga disebut sebagai Bumi Majapahit, maka tidak heran lagi  sering didengar masyarakat Indonesia. khususnya, di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Di Trowulan ini terdapat destinasi wisata sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit, yang dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk para pelancong, mulai dari dalam negeri maupun luar negeri.

Salah satunya yakni Candi Tikus yang terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Disetiap situs memiliki sejarah tersendiri dibalik penemuannya, termasuk candi ini  yang tidak sengaja ditemukan karena menjadi sarang tikus.

Berawal dari situ juga asal-usul kata tikus dicantumkan menjadi nama candi yang menjadi cagar budaya peninggalan dari era Kerajaan Majapahit tersebut.

Area Candi Tikus awalnya hanya berbentuk sebuah gundukan tanah dan batu. Warga sekitar sering dibuat resah lantaran kerap diganggu hama tikus yang bersumber dari gundukan tersebut.

Hal tersebut terjadi pada tahun 1914, saat itu Mojokerto sendiri masih berada dibawah kekuasan Hindia Belanda.

RAA Kromodjoyo Adinegoro IV yang menjabat sebagai bupati, mendengar keresahan warga kala itu, langsung menindak lanjuti perkara tersebut. Ia segera datang ke lokasi serta menggali gundukan tanah yang menjadi sarang tikus tersebut.

 

 

Di tengah proses penggalian, barulah terlihat struktur candi yang selama itu terpendam di bawah tanah. Lalu, Bupati Mojokerto seketika itu juga melaporkan ke pemerintah Belanda dan meneruskan penggalian dengan berhati-hati.

Candi tikus ini sudah mengalami perbaikan total sebanyak empat kali. Pada tahun 1984, 1989, 1992, dan tahun 2007 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala atau saat ini dikenal dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPK) wilayah XI Jatim.

 

 

Candi ini tersusun dari tiga teras. Pada teras pertama ada delapan buah bangunan candi yang memiliki ukuran sedang. Teras kedua terdapat candi induk yang dikelilingi oleh delapan candi lainnya yang memiliki ukuran kecil.

Terdapat hiasan kepala makara dan kuncup bunga Padma yang terbuat dari batu kali, di sekeliling pondasi candi.

Candi Tikus ini tersusun dari batu bata merah, memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 22,5 meter serta kedalaman 3,5 meter di bawah permukaan tanah. Candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini adalah pertirtaan, yang di mana airnya dipercayai sebagai air suci.

Saat ini, Candi Tikus menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain berfungsi sebagai objek wisata, Candi Tikus ini terus memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan spiritual dan budaya komunitas.

 

 

Situs Candi Tikus ini memperlihatkan bahwa situs ini bukan hanya menjadi daya Tarik pariwisata, namun juga tetap relevan dalam praktik-praktik keagamaan serta budaya yang dipegang oleh masyarakat setempat. ADINDA

 

 

Editor : Imron Arlado
#sejarah #daya tarik #Balai Pelestarian Cagar Budaya #Bumi Majapahit #destinasi wisata #candi tikus #warisan budaya #kabupaten mojokerto #jawa timur #trowulan #RAA Kromodjoyo Adinegoro IV #hindia belanda #kerajaan majapahit #situs