RADAR MAJAPAHIT - Pemkab Mojokerto ancang-ancang menggelar ekskavasi lanjutan Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, tahun ini.
Pasalnya, sejauh ini jejak sejarah peninggalan Majapahit pada kompleks bangunan suci tersebut belum seluruhnya terungkap.
Kabid Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Riedy Prastowo menerangkan, penulusuran arkeologis menjadi salah satu kegiatan prioritas pada tahun ini.
Candi peninggalan Raja Hayam Wuruk dimungkinkan kembali digali pertengahan tahun nanti.
’’Rencana kita ekskavasi tahun ini di Situs Bhre Kahuripan. Karena pagar keliling sisi timur di bawah jalan itu masih belum ditampakkan,’’ ujarnya, kemarin.
Ekskavasi tahun kelima candi berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi ini tuntas digelar pertengahan pada 2024.
Namun begitu, kurang dari 50 persen sebaran struktur cagar budaya di area inti candi yang terungkap. Ekskavasi tersebut menyasar pagar keliling halaman utama candi.
Yakni pagar sisi utara setebal 110 cm yang membujur dari barat ke timur sepanjang 183 meter dengan tiga tapak pilar di tengahnya.
Dan melacak sebaran pagar timur yang membentang dari utara ke selatan.
Selain itu, tim ekskavasi menampakkan tapak gapura berbentuk cruciform dan struktur yang diduga tempat pemujaan anyar di area barat candi.
Namun begitu, belum diketahui pasti denah bangunan di area sakral situs Bhre Kahuripan tersebut.
’’Oleh karena itu, kami bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI nanti akan melanjutkan data yang ada. Tetapi, ini kita sesuaikan dengan kegiatan BPK Wilayah XI juga,’’ terangnya.
Riedy menyebut, kegiatan ekskavasi ini masuk rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
Yang anggaran pelaksanaannya bersumber dari APBD Pemkab Mojokerto tahun 2025.
Oleh karena itu, pihaknya masih menunggu kebijakan lanjutan terkait realisasi ekskavasi yang diprakarsai pemda tersebut.
’’Untuk pastinya, kami juga masih menyesuaikan dengan kebijakan pada tahun (2025) ini,’’ tukas Riedy. (vad/fen)
Editor : Martda Vadetya