RADAR MAJAPAHIT – Candi Tikus di Desa Temon, Kecamtan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, memiliki pesona tersendiri pada struktur bangunannya yang unik.
Hal ini sekaligus membedakannya dari kebanyakan candi pada masa kerajaan Majapahit berdiri di Nusantara.
Keunikan utamanya terletak pada posisinya yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Dengan bentuk bujur sangkar dan dimensi panjang dan lebar mencapai 22,5 meter, candi ini memancarkan daya tarik arsitektural yang memikat.
Konstruksi Candi Tikus menggunakan batu bata merah sebagai bahan utamanya, menciptakan dinding-dinding yang tidak hanya kokoh tetapi juga teratur.
Penggunaan batu bata merah ini secara harmonis mengikuti gaya arsitektur candi Hindu yang umumnya ditemui di tanah Jawa.
Bata candi, setelah melalui beberapa perbaikan, kini memperlihatkan tampilan yang lebih rapi, menghadirkan citra keselarasan antara tradisi dan pembaruan.
Mpu Prapanca, dalam kitab Negarakertagama, memberikan gambaran bahwa Candi Tikus, diperkirakan dibangun pada abad ke-XIII atau ke-XIV, berfungsi sebagai tempat mandi raja dan pelaksanaan upacara tertentu di kolam-kolamnya.
Kitab tersebut, pada pupuh 27 dan 29, merinci tentang petirtaan raja yang dikunjungi oleh Hayam Wuruk dan upacara-upacara yang diadakan di kolam-kolam.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Candi Tikus menjadi pusat petirtaan dengan nilai sakral yang tinggi, yang digunakan untuk perayaan upacara keagamaan.
AJ Bernert Kempers dalam bukunya berjudul Ancient Indonesia Art menyajikan pandangan bahwa struktur miniatur menara di sekitar Candi Tikus memiliki hubungan dengan konsep religi.
Menurut Kempers, susunan menara ini adalah replika dari Gunung Mahameru atau Semeru, gunung suci dalam kepercayaan Hindu dan Budha.
Candi Tikus, dengan bangunan utama dan menara-menara di sekitarnya, menciptakan citra yang mirip dengan Gunung Mahameru.
Konsep ini menunjukkan bahwa Candi Tikus bukan hanya tempat petirtaan, tetapi juga merupakan representasi visual dari gunung suci yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
Kempers juga menyoroti model bangunan Candi Tikus yang mengecil ke atas, dengan bangunan utama memiliki puncak utama dikelilingi oleh delapan puncak kecil.
Analisis ini menggambarkan kemiripan struktur dengan Gunung Mahameru dalam konteks mitologi Hindu-Buddha.
Dengan keterkaitannya pada air kehidupan yang memiliki kekuatan magis untuk memberikan kehidupan pada makhluk hidup.
Pemahaman ini tercermin dalam arsitektur Candi Tikus dan tetap dihormati oleh masyarakat hingga saat ini.
Namun, NJ Krom menyajikan perspektif berbeda dengan mengusulkan bahwa pembangunan Candi Tikus terjadi dalam dua tahap.
Pendapat ini disusun berdasarkan analisis bahan dan gaya seni dari saluran air di sekitar candi.
Pandangan Krom memberikan kontribusi pada pemahaman evolusi dan tahapan pembangunan Candi Tikus yang lebih rinci dan terperinci.
Dengan demikian, berbagai pandangan ini bersama-sama membentuk gambaran yang lebih lengkap tentang signifikansi dan fungsi Candi Tikus dalam konteks keagamaan dan budaya pada masa Majapahit.
Proses pembangunan Candi Tikus melibatkan pemanfaatan batu bata merah sebagai bahan utamanya, menciptakan dinding-dinding yang tidak hanya kuat tetapi juga teratur.
Pemilihan batu bata merah ini dengan selaras mengikuti gaya arsitektur candi Hindu yang umumnya terdapat di tanah Jawa.
Bahan bangunan ini, setelah mengalami beberapa perbaikan, sekarang menampilkan tampilan yang lebih teratur, membawa citra harmonisasi antara tradisi dan inovasi.
Relief-relief yang terdapat di Candi Tikus, seperti gambar bunga lotus, bunga fatma, dan bunga teratai, tidak hanya memiliki nilai artistik tetapi juga mengandung makna simbolis yang terkait dengan kesucian wanita dan unsur kesuburan.
Menurut keyakinan masyarakat setempat, air yang mengalir dari relief bunga teratai yang masih kuncup memiliki keistimewaan tertentu.
Selain berfungsi sebagai objek wisata, Candi Tikus terus memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan spiritual dan budaya komunitas.
Situs candi tikus ini menunjukkan bahwa situs ini tidak hanya menjadi daya tarik pariwisata, tetapi juga tetap relevan dalam praktek-praktek keagamaan dan budaya yang dipegang oleh masyarakat sekitar. (widya)
Editor : Martda Vadetya