Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Relief Astadikpalaka Jadi Bukti Mengakarnya Aspek Budaya dan Kepercayaan Masyarakat Majapahit  

Martda Vadetya • Rabu, 4 Desember 2024 | 02:40 WIB

 

foto relief astadikpalaka (istimewa).
foto relief astadikpalaka (istimewa).

RADAR MAJAPAHIT – Tim arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur menemukan delapan relief Astadikpalaka yang berusia ratusan tahun di situs bersejarah Candi Bhre Kahuripan.

Temuan cagar budaya di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ini dianggap sangat signifikan dalam upaya memahami praktik keagamaan dan budaya masyarakat pada masa kerajaan Majapahit.

Relief Astadikpalaka merupakan representasi dari delapan dewa penjaga arah mata angin dalam tradisi Hindu.

Yaitu Indra, Agni, Yama, Nirrti, Varuna, Vayu, Kubera, dan Isana. Setiap dewa memiliki atribut dan simbolisme tersendiri yang mencerminkan kekuatan dan perannya dalam mitologi Hindu.

Relief ini biasanya dipahat pada batu dan ditempatkan di bangunan suci sebagai bagian dari upacara pemujaan.

Setiap relief yang ditemukan di Candi Bhre Kahuripan menunjukkan detail artistik yang mencerminkan keahlian tinggi para seniman pada masa itu.

Para arkeolog melaporkan bahwa relief-relief tersebut masih dalam kondisi baik meskipun terpapar cuaca selama berabad-abad.

Penemuan ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana masyarakat Majapahit menghormati dewa-dewa mereka melalui seni dan arsitektur.

Relief ini juga mengindikasikan adanya pengaruh kuat dari tradisi Hindu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Majapahit.

Dengan adanya Astadikpalaka, dapat dipahami bahwa masyarakat pada masa itu memiliki sistem kepercayaan yang kompleks dan terstruktur, di mana setiap dewa memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Penemuan relief ini di Candi Bhre Kahuripan menunjukkan bahwa situs tersebut kemungkinan besar digunakan sebagai tempat pemujaan.

Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa batu Astadikpalaka ditempatkan di delapan penjuru, yang menunjukkan pentingnya posisi dan orientasi dalam praktik keagamaan masyarakat Majapahit.

Dengan penemuan ini, harapan akan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap sejarah dan budaya Indonesia juga semakin nyata.

Pendidikan tentang warisan budaya harus ditingkatkan agar generasi muda dapat memahami pentingnya menjaga cagar budaya.

Selain itu, penemuan seperti ini diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan domestik maupun internasional untuk mengunjungi situs-situs bersejarah di Indonesia.

Para arkeolog berharap bahwa dengan dukungan dari berbagai pihak, penelitian dan pelestarian situs-situs bersejarah seperti Candi Bhre Kahuripan dapat terus dilakukan.

Hal ini tidak hanya akan memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah bangsa tetapi juga memperkuat identitas nasional kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan tradisi. (RIZQI)

 

Editor : Martda Vadetya
#cagar budaya #mojokerto #majapahit #Relief