Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Beginilah Jaringan Pelabuhan yang Menjadikan Perekonomian Majapahit Tangguh  

Martda Vadetya • Minggu, 1 Desember 2024 | 17:00 WIB

 

Replika rudder kapal Majapahit (Istimewa).
Replika rudder kapal Majapahit (Istimewa).

 

RADAR MAJAPAHIT – Pada masa kerajaan Majapahit pelabuhan memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan perdagangan dan pertahanan pada masa tersebut.

Meskipun terletak jauh dari laut, kerajaan Majapahit memanfaatkan aliran air Sungai Brantas sebagai jalur utama untuk menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir.

Dengan pengembangan pelabuhan-pelabuhan sungai yang sangat baik dan teliti majapahit mampu mengoptimalkan potensi ekonominya.

Dibawah ini merupakan pelabuhan-pelabuhan yang ada pada masa kerajaan Majapahit.

Pelabuhan Canggu

Di Mojokerto sendiri ada sebuah pelabuhan yang berada di wilayah Canggu yang disebut dalam prasasti Canggu terletak diantara Mabuwur dan Sarbo.

Mabuwur saat ini diketahui menjadi desa Jatiduwur di perbatasan Jombang-Mojokerto, sedangkan Sorbo sekarang dikenal dengan Dusun Serbo, Desa Bogempinggir Kecamatan Balongbendo yang terletak di timur laut Canggu, termasuk dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Mengenai desa penyeberangan Godog, Rumasan, Randu Gowok, Wahas, dan Nagara saat ini tidak dikenal lagi desa-desa tersebut.

Desa-desa penyeberangan pada Prasasti Canggu disebutkan secara berurutan mulai hulu hingga hilir sungai.

Maka dapat disimpulkan bahwa Canggu terletak di wilayah antara Desa Jatiduwur dan Serbo.

Di antara Jatiduwur dan Serbo terdapat sebuah desa dengan nama Canggu, Kecamatan Jetis, Mojokerto yang dapat diidentikkan dengan Pelabuhan Canggu masa Majapahit.

Identifikasi ini diperkuat dengan penelitian Hutama yang menyimpulkan bahwa Desa Canggu berdasarkan temuan arkeologisnya identik dengan pelabuhan kuno masa lampau.

Pelabuhan Bubat

Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.

Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang tiangnya penuh berukir dengan isi dongeng Parwa dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Selain itu Pararaton juga menginformasikan bahwa Bubat terletak di sebelah utara keraton.

Bubat mempunyai lapangan yang luas membentang ke arah timur, dan Sungai Brantas terletak di sebelah utara Bubat.

Maclaine Pont seorang peneliti keraton Majapahit mengungkapkan bahwa lapangan Bubat terletak di sebelah utara Alun-alun utara kerajaan dengan luas lapangan sekitar 1 km persegi.

Sementera itu, pasar terletak di sebelah barat lapangan Bubat, di antara lapangan Bubat dan pasar terdapat jalan dengan lebar 40 m.

Jalan tersebut menghubungkan pelabuhan Canggu dengan pusat kerajaan.

Pernyataan di atas diperkuat dengan naskah Bujangga Manik, dikisahkan pada pertengahan abad ke-15, seorang Brahmana dari kerajaan Pakuan bernama Bujangga Manik, melakukan perjalanan ke arah timur sampai di pulau Bali.

Bujangga Manik datang dari arah barat menuju ke Majapahit yang terletak di sebelah timur.

Sehingga dipastikan Bujangga Manik menaiki perahu dan mengikuti arah hilir sungai Brantas.

Dari rute yang dilewati oleh Bujangga Manik menunjukkan bahwa Bujangga Manik memasuki pelabuhan Bubat setelah menyeberangi sungai Brantas di sekitar Kertosono, perbatasan Nganjuk – Jombang.

Dari beberapa pemberitaan di atas, maka disimpulkan wilayah Bubat pada saat sekarang diidentifikasikan terletak di desa Tempuran, kecamatan Sooko, kabupaten Mojokerto.

Bubat dibatasi oleh sungai di sebelah utara dan di sebelah timur. Sungai yang membatasi wilayah Bubat adalah kali Gunting dan sungai Brantas. Pertemuan dua sungai di desa Tempuran inilah tempat keberadaan pelabuhan Bubat.

Pelabuhan Terung

Karya sastra Babad Tanah Jawi menceritakan, pada masa Brawijaya V, putra Arya Damar dari Palembang, yaitu Raden Kusen yang sudah memeluk agama Islam diangkat menjadi Adipati di Terung.

Pada karya sastra lain, yaitu Serat Kanda menginformasikan bahwa Raden Kusen atau Adipati Terung merupakan salah satu penggagas penyerangan Demak atas Majapahit.

Wilayah Terung yang dipimpin oleh Raden Kusen selamat dari penyerangan pasukan Demak yang menghancurkan wilayah Majapahit dan sekitarnya, karena wilayah Terung dan Adipati terung sudah memeluk Islam.

Uraian mengenai Terung dalam Serat Kanda menunjukkan bahwa pasukan Demak yang akan menyerang Majapahit melewati Terung.

Letak pelabuhan Terung masa kerajaan Majapahit dapat diketahui dari prasasti Canggu yang menyebutkan Terung berada di antara Sarba dan Kambang Cri.

Kambang Sri saat ini diketahui sebagai desa Bangsri yang terletak di kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Sedangkan Sarba, pada saat ini diidentikkan dengan Dusun Serbo, Kecamatan Balongbendo.

Berdasarkan keterangan tersebut pelabuhan Terung terletak diantara kecamatan Balongbendo dan kecamatan Sukodono.

Kecamatan Krian yang terletak diantara dua kecamatan tersebut terdapat desa Terung yang dapat dimungkinkan merupakan tempat pelabuhan Terung masa Majapahit.

Majapahit membangun kota pelabuhan besar untuk mendukung monopoli perdagangan rempah Nusantara.

Mulai dari pelabuhan di Tuban, berpindah ke Gresik, lalu ke Pasuruan.

Komoditas rempah lantas dibawa para pedagang hingga ke India, Timur Tengah dan Eropa. Perairan Nusantara saat itu dikuasai Majapahit dengan perdagangan hasil bumi dikenai pajak.  (widya)

 

Editor : Martda Vadetya
#pelabuhan #perdagangan #majapahit #nusantara