Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sederet Sistem Irigasi Kuno Ini Jadi Bukti Kejayaan Teknologi Pertanian Kerajaan Majapahit

Martda Vadetya • Kamis, 28 November 2024 | 22:00 WIB
Foto kolam segaran di Trowulan, Mojokerto. (istimewa)
Foto kolam segaran di Trowulan, Mojokerto. (istimewa)

RADAR MAJAPAHIT – Sistem irigasi pertanian pada masa kerajaan Majapahit merupakan salah satu teknologi terapan yang signifikan dalam sejarah agrikultur Nusantara.

 Kerajaan Majapahit dikenal karena pengelolaan sumber daya air yang canggih. Yang tidak hanya mendukung pertanian, melainkan juga berperan penting dalam kemakmuran ekonomi kerajaan.

Berikut sederet tinggalan arkeologis era Majapahit yang membuktikan keberadaan sistem irigasi yang maju pada 700 tahun lalu.

Pipa saluran air dari terakota

Pipa saluran air kuno ini ditemukan di dekat Candi Tikus. Ini dapat membuktikan bahwa pada masa itu telah menggunakan teknologi cukup maju dalam menyalurkan air dari satu tempat ke tempat yang lain.

Meskipun temuan pipa terakota seperti ini tidak banyak, tetapi keberadaan pipa itu dapat menjadi bukti upaya pengembangan teknologi keairan yang unggul dan sejauh ini belum pernah didapatkan di situs klasik lain di Indonesia. 

Kanal 

Terdapat temuan yang diduga sebagai kanal pada tahun 1980-an oleh Bakosurtanal yang memberikan interpretasi pada foto udara.

Bahwa di Trowulan terdapat jaringan kanal dan merupakan komponen penting yang mendukung tata air perkotaan sesuai dengan kondisi iklim dan lanskapnya.

Kemudian pada jaringan kanal tersebut diperkirakan memiliki ukuran jaringan air antara 20-30 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter.

Penelitian Safitri memastikan bahwa ibu kota Majapahit dikelilingi oleh jaringan jalur air yang lebar dan dalam serta mempunyai jalan keluar ke arah barat menuju ke Sungai Brantas.

Adapun sumber airnya berasal dari sungai-sungai yang ada di sebelah selatan ibukota.

Waduk Tua

Trowulan yang dianggap sebagai pusat pemerintahan pada masa Majapahit memiliki banyak waduk yang dibangun dan digunakan oleh masyarakat untuk menunjang irigasi.

Baik untuk pertanian maupun untuk memenuhi kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Berikut waduk kuno tinggalan Majapahit yang masih dapat diketahui keberadaanya.

Waduk Baureno. Merupakan waduk tua yang ada di Kecamatan Trowulan. Waduk ini yang terletak 0,5 km dari pertemuan Sungai Boro dengan Sungai Landean.

Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Sungai Pikatan membentuk Sungai Brangkal.

Namun keadaan Waduk Baureno ini sekarang adalah berupa cekungan. 

Waduk Kumitir. Terletak di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.  Waduk ini juga tidak jauh dari Waduk Baureno, tepatnya pada sebelah barat Waduk Baureno.

Namun keadaan saat ini, Waduk Kumitir telah beralih fungsi menjadi tempat permukiman.

Waduk Keraton. Merupakan waduk tua yang kini beralih fungsi menjadi cekungan dengan dasar tanah yang datar.

Letaknya dari Waduk Keraton berada di utara Gapura Bajang Ratu atau terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. 

Waduk Temon. Letaknya di Dusun Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Waduk ini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian di dataran yang cekung.

Waduk Domas. Berada di utara Waduk Baureno dan juga merupakan waduk tua yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air.

Baik untuk irigasi pertanian dan masih banyak lagi. Kondisi saat ini dari waduk domas ini telah beralih fungsi menjadi lapangan.

Waduk Kedung Wulan. Merupakan waduk tua yang ada di Trowulan. Namun mengenai kondisi saat ini maupun masa lalu belum ditemukan, baik foto maupun sisa dataran cekung dari waduk ini.

Kolam Buatan. Kolam buatan yang terdiri dari kolam segaran, kolam balong dowo, kolam balong bunder.

Sistem pengairan ini sangat terorganisir. Petugas jogo tirto bertanggung jawab untuk memastikan distribusi air sesuai kebutuhan para petani.

Mereka memiliki kewenangan untuk mengalihkan saluran air jika diperlukan, menciptakan sistem yang responsif terhadap kebutuhan pertanian.

Keberhasilan sistem irigasi ini berdampak besar pada sektor pertanian Majapahit. Dengan kondisi alam yang mendukung dan teknologi irigasi yang maju.

Masyarakat Majapahit dapat melakukan panen padi hingga dua kali setahun. Selain padi, mereka juga menanam berbagai komoditas lain seperti semangka dan kelapa. (widya)

Editor : Martda Vadetya
#kuno #majapahit #Sistem Irigasi #pertanian #air