RADAR MAJAPAHIT – Beteng Semboro, merupakan sebuah situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember.
Beteng Semboro menawarkan wawasan mendalam tentang peradaban masa lalu dan perjuangan para rajanya malalui keunikan arsitekturnya.
Situs bersejarah ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V, raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.
Ketika Wilatikta, sebutan Majapahit, mengalami kemunduran akibat serangan dari Raden Fatah dan pasukan Demak, Brawijaya V melarikan diri ke wilayah Jember.
Dalam pelariannya, ia mendirikan benteng ini sebagai tempat perlindungan dan pertahanan.
Situs ini menjadi saksi bisu dari peristiwa penting dalam sejarah Majapahit, di mana perjuangan untuk mempertahankan kekuasaan dan identitas budaya terjadi.
Beteng ini tidak hanya berfungsi sebagai benteng fisik tetapi juga sebagai simbol ketahanan dan semangat juang rakyat Majapahit.
Beteng Semboro mulai dikenal luas setelah penemuan oleh seorang warga lokal pada tahun 1939.
Saat itu, ia menemukan gundukan tanah dan puing-puing bangunan saat mencari kayu bakar.
Penemuan ini memicu minat para arkeolog dan sejarawan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai situs ini.
Sejak saat itu, berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap lebih dalam tentang sejarah dan fungsi asli dari Beteng Semboro.
Beteng Semboro memiliki desain arsitektur yang mencerminkan gaya khas Majapahit. Bentuk bangunan yang kokoh dengan dinding tebal terbuat dari batu bata dan tanah liat menunjukkan kemampuan teknik konstruksi yang tinggi pada masanya.
Selain itu, terdapat beberapa struktur pendukung seperti sumur yang konon tidak pernah kering meskipun di musim kemarau.
Hal ini menambah daya tarik situs ini sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah sekaligus keajaiban alam.
Meskipun memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, kondisi Beteng Semboro saat ini cukup memprihatinkan.
Kurangnya perawatan dan perhatian dari pemerintah daerah menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan.
Banyak bagian dari benteng yang mulai runtuh, dan vegetasi liar tumbuh subur di sekitar area tersebut.
Abdul Gani, juru kunci situs tersebut, mengungkapkan bahwa kurangnya dana menjadi salah satu faktor utama dalam perawatan situs ini. (RIZQI)
Editor : Martda Vadetya