Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Inilah Mitos Dibalik Keindahan Arsitektur Candi Sukuh yang Menjelaskan Sejarah Majapahit

Martda Vadetya • Senin, 18 November 2024 | 15:00 WIB

Foto istimewa
Foto istimewa
 

RADAR MAJAPAHIT – Candi Sukuh terletak di kaki Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah yang merupakan salah satu candi bersejarah dan memiliki mitos menarik.

Dikenal sebagai candi terakhir bercorak Hindu yang tinggalan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15, Candi Sukuh memiliki bentuk arsitektur yang unik dan berbeda dari candi-candi lain di Indonesia.

Bentuknya struktur trapesium dan relief-relief yang menggambarkan kisah-kisah mitologi.

Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1815 oleh Jhonson, residen Surakarta, dan sejak itu menjadi objek penelitian oleh berbagai arkeolog.

Candi Sukuh diyakini dibangun sebagai tempat pemujaan dan pengruwatan, untuk menghilangkan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Relief yang ada di candi ini, seperti Kidung Sudamala, menceritakan kisah-kisah tentang pengruwatan dan transformasi karakter dalam mitologi Jawa.

Candi Sukuh memiliki tiga teras dengan ciri khas arsitektur yang berbeda.

Teras utama adalah tempat suci dan tertinggi, sementara teras pertama berfungsi sebagai gerbang masuk.

Struktur candi ini menghadap ke barat, berbeda dengan candi-candi lainnya di Jawa yang umumnya menghadap ke timur.

Hal ini menambah daya tarik bagi para pengunjung untuk menjelajahi keunikan arsitektur dan sejarahnya.

Candi Sukuh tidak hanya dikenal karena arsitekturnya yang unik, tetapi juga karena berbagai mitos dan legenda yang mengelilinginya.

Salah satu mitos paling terkenal adalah tes keperawanan. Dalam tradisi ini, seorang perempuan yang ingin membuktikan keperawanannya harus melewati tangga piramida candi tanpa merobek kain yang dikenakannya.

Jika kain tersebut robek saat melewati tangga, maka dianggap bahwa perempuan tersebut sudah tidak perawan.

Mitos ini mencerminkan nilai-nilai sosial dan moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat pada masa lalu.

Mitos lain yang beredar adalah tentang ujian kesetiaan pasangan. Dalam tradisi ini, calon istri diminta untuk melangkahi relief tertentu di candi.

Jika pakaiannya robek atau terlepas saat melangkahi relief tersebut, itu dianggap sebagai tanda ketidaksetiaan.

Mitos-mitos ini memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat pada masa itu memandang hubungan antar individu serta norma-norma sosial yang berlaku.

Candi Sukuh juga sering digunakan untuk berbagai ritual dan upacara oleh masyarakat setempat.

Beberapa komunitas masih melaksanakan upacara tradisional di sekitar candi untuk menghormati leluhur dan menjaga hubungan spiritual dengan alam.

Candi Sukuh bukan hanya sekadar bangunan bersejarah; ia merupakan simbol dari kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa pada masa lalu.

Mitos-mitos yang mengelilinginya memberikan wawasan tentang nilai-nilai sosial dan norma-norma budaya yang berlaku saat itu. (RIZQI)

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #majapahit #mitos #Candi Sukuh