Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Prajurit Khusus di Era Kerajaan Majapahit Berlatih Keras di Tempat Ini, Simak Lengkapnya

Imron Arlado • Minggu, 17 November 2024 | 23:05 WIB

Ilustrasi prajurit Bhayangkara era Majapahit.
Ilustrasi prajurit Bhayangkara era Majapahit.

RADAR MAJAPAHIT - Proklamasi Majapahit telah terlaksana di Pendopo Agung Sitinggil. dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama, Ki Bangga sebagai senopati, Ki Gede Jabung sebagai guru pandhita, juga Arya Wiraraja sebagai penasehat kerajaan.

Pemerintahan Majapahit pun terorganisir dengan sangat baik, hingga saat itu menuju puncak kejayaan.

Seiring berjalannya waktu, kerajaan Majapahit ini semakin maju dan berkembang pesat kala itu Raden Wijaya memindahkan wilayah ibukota yang mulanya berada di pakuwon isun, dipindah wilayah kedaton yang saat ini Diperkirakan di kedaton sumur upas, di buktikan dengan di temukannya situs sumur upas kedaton.

Dengan begitu pakuwon isun menjadi sepenuhnya menjadi kekuasaan Arya Panular (Ki Bangga).

Kemudian oleh Arya Panular diganti nama menjadi pakuwon karang kepakisan. Selan itu, pakuwon karang kepakisan ini dinobatkan menjadi “Katemenggungan” atau wilayah yang di sakralkan.

Pakuwon karang kepakisan memiliki makna, karang: berarti tempat atau wilayah. Sedangkan kepakisan: dapat di artikan sebagai wilayah yang dekat dengan kerajaan.

Pakuwon karang kepakisan tetap berfungsi sama seperti pakuwon isun. yakni sebagai tempat berkumpulnya (markas) prajurit.

Di dalam pakuwon karang kepakisan, terdapat pula Pasinan OroOro Kul yang di gunakan sebagai wahana perguruan keprajuritan, yaitu wahana “Kawah Candradimuka” untuk menggembleng prajurit majapahit yang tangguh handal (professional) yang di koordinir langsung oleh Arya Panular.

Pasinan adalah perbendaharaan bahasa Jawa, termasuk jenis kata plutan. Pasinan berasal dari kata Pasinauan, dari akar kata “Sinau“ (kata kerja). Sinau dalam bahasa jawa mengandung arti menuntut ilmu.

Pasinauan di lidah orang jawa berubah menjadi kata “Pasinaon“, dan berubah lagi menjadi kata Pasinan ( kata benda ) artinya tempat menuntut ilmu. Bisa juga disebut “Pasraman“ atau perguruan. Selanjutnya, menengenai Oro-Oro Kul.

Oro-Oro memiliki arti lapangan atau tanah yang luas. Dan Kul (plutan) dari kata kulino (bahasa jawa) yang artinya membiasakan diri atau latihan secara rutin dan sistematis. Jadi OroOro Kul memiliki arti lapangan tempat pendidikan dan pelatihan.

Prajurit yang sudah terdidik dan terlatih difokuskan dan di himpun di sebuah tempat yang diberi nama Pakuwon Watu Tulis.

Pakuwon watu tulis dijadikan sebagai pusat tempat pendidikan dan  pelatihan prajurit. Hingga pada suatu ketika terbentuklah kesatuan prajurit istimewa yang disebut sebagai “Prajurit Bhayangkara” yang di komandoi langsung oleh senopati manggala yudha arya panular.

Di kemudian hari, ada satu orang prajurit yang menarik hati arya panular karena kegigihannya dalam berlatih dan belajar.

Prajurit ini bernama gajah mada, beliau di angkat sebagai anglurah (pemimpin kesatuan prajurit) sebelum ia di angkat menjadi mahapatih mangkubumi. Ia memiliki nama asli dan memiliki gelar gajah mada.

Pasukan istimewa prajurit bhayangkara ini memiliki markas khusus untuk bertemu dan berlatih. Tempat tersebut di tandai dengan sebuah prasasti “Watu Seno” yang berwujud pahatan vigur arya seno atau bima sang penegak pandawa.

Secara filosofis watu seno ini menggambarkan sifat seorang kstaria yang gagah, sakti. Dan sekaligus digunakan sebagai simbol pasukan bhayangkara.

Gajah mada yang disini berperan sebagai anglurah memiliki wewenang untuk tinggal di karang kepakisan tepatnya di watu seno.WIDYA

Editor : Imron Arlado
#pasukan khusus #Berlatih Keras #Arya Wiraraja #kerajaan majapahit