RADAR MAJAPAHIT – Jejak sejarah peradaban Majapahit tersebar di penjuru Jawa Timur. Beragam mitos dan legenda turut mengiri keberadaan sejumlah tinggalan tersebut. Khususnya berupa situs cagar budaya.
Salah satunya Candi Surawana atau Wishnubhawanapura yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.
Sejarahnya, candi yang dibangun pada abad ke-14 masehi ini didedikasikan untuk memuliakan Bhre Wengker, paman dari Raja Hayam Wuruk yang menjadi saksi kejayaan lerajaan Majapahit.
Candi dengan ukuran 8 x 8 meter persegi ini sepenuhnya tersusun dari batu andesit.
Meskipun kini hanya tersisa struktur dasarnya, candi ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Dalam kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah menginap di candi ini pada tahun 1361.
Relief-relief yang menghiasi dinding candi menggambarkan berbagai adegan kehidupan sehari-hari serta kisah epik Arjuna Wiwaha.
Tentunya, hal ini memberikan gambaran tentang budaya dan kepercayaan masyarakat pada masa itu.
Pemugaran pertama candi ini dilakukan oleh D.M. Verbeek dan J. Knebel pada tahun 1908 silam. Kemudian dilanjutkan oleh P.J. Perquin pada tahun 1915.
Saat ini, upaya pemugaran masih terus dilakukan untuk melestarikan keindahan dan nilai sejarah candi.
Ada beragam pesan moral yang bisa diambil masyarakat terkait keberadaan relief-relief yang menghiasi dinding candi. Seperti kisah Arjuna Wiwaha dan Bubuksah.
Relief ini menggambarkan ajaran moral dan spiritual di mana Bubuksah digambarkan sebagai sosok yang berserah kepada Tuhan untuk mencapai kebahagiaan abadi. Sementara Gagang Aking masih terikat pada hal-hal duniawi.
Candi ini diyakini menjadi tempat ritual dan pendharmaan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat pada masa itu terhadap kehidupan setelah mati dan penghormatan kepada leluhur. (RIZQI)
Editor : Martda Vadetya