Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi di Trowulan Ini Sudah Ada Sebelum Majapahit Berdiri Lho! Namanya Ada di Dalam Prasasti

Martda Vadetya • Minggu, 10 November 2024 | 14:00 WIB
foto istimewa.
foto istimewa.

RADAR MAJAPAHIT – Candi Brahu merupakan salah satu peninggalan leluhur yang dilestarikan masyarakat Majapahit.

Candi bercorak Buddha ini dibangun untuk tempat ritual keagamaan oleh masyarakat pada 700 tahun lalu.

Candi Brahu didirikan oleh Mpu Sindok, penguasa Kerajaan Mataram Kuno atau Medang kala itu.

Nama Brahu diambil dari kata `Wanaru' atau 'Warahu' yang berarti sebuah bangunan suci keagamaan atau tempat pemujaaan bagi agama Budha.

Yang dicantumkan di dalam prasasti Alasantan, prasasti tembaga yang berangkat tahun 861 saka atau 939 masehi.

Kata `Wanaru' atau 'Warahu' sendiri memiliki arti sebuah bangunan suci keagamaan atau tempat pemujaaan bagi umat Budha.

Sebagaimana yang terlihat, Candi Brahu terbuat dari bata yang disusun dengan sistem gosok.

Sebagian besar Candi Brahu saat ini merupakan susunan bata baru hasil pemugaran para ahli pada masa kolonial Belanda.

Candi Brahu berdiri berada di ketinggian 32,79 m diatas permukaan laut dengan luas area sekitar 1.345 m².

Tempat ibadah masyarakat Jawa Kuno ini berbentu segi empat dan berdimensi 18 x 22,5 m dengan tinggi candi sekitar 25 m.

Di dalamnya terdapat bilik berukuran 4x4 m, namun kini kondisi lantainya telah rusak.

Bagian atap candi ini memiliki ketinggian kurang lebih 6 meter. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang di duga sebagai bentuk sebuah stupa.

Corak Buddha salah satunya terlihat dari profil stupa candi yang lebih tua dari masa Majapahit ini.

Sementara prasasti tembaga yang dinamai Alasantan, ditemukan sekitar 45 m di barat candi. (widya)

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #mpu sindok #kerajaan medang #candi brahu #mataram kuno