RADAR MAJAPAHIT – Pada zaman Majapahit tombak merupakan salah satu senjata ampuh dalam berperang.
Namun saat ini fungsi tombak sudah bergeser, dari senjata tradisional menjadi sebuah pusaka yang disakralkan.
Saat ini masih ada masyarakat yang memakai tombak sebagai alat untuk melindungi dari mara bahaya.
Biasanya tombak di pasang di depan gawang pintu masuk ruang tamu. Setiap hari hingga pada acara tertentu.
Keberadaan tombak kuno ini dipercaya mampu menyisihkan bala atau hal buruk yang tidak di inginkan berikut energi buruk.
Pada era Majapahit tombak dipegang oleh seorang senopati atau pimpinan pasukan perang.
Dahulu, tombak sekaligus mencerminkan kasta seseorang.
Senjata tradisional terbagi menjadi beberapa jenis, mulai dari telok 13 itu poro welang, ada yang luk 3 itu jangkung tetapi yang biasanya buat perang itu tombak yang ratarata lurus.
Adapun bagian tombak meliputi :
- Sarung tombak: rawarangka.
- Hulu yakni ukiran tombak.
- Dapur.
- Handel atau pegangan keris.
- Gonjo, bagian alas atau dasar bilah.
- Pamor, gambar yang terdapat pada bilah tombak.
- Peksi, bagian keris pada pangkal atau bongkot.
Selain dipercaya sebagai mampu mengusir keburukan, tombak juga dilibatkan dalam beberapa ibadah umat Islam.
Seperti saat khutbah, tombak di pegang oleh bilal dengan posisi menjulang ke atas yang mempunyai arti kita merupakan hamba yang harus menuju keatas atau bertuhan. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya