RADAR MAJAPAHIT – Majapahit mencapai puncak kejayaan pada saat dipimpin Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.
Hayam Wuruk merupakan raja keempat kerajaan yang disebut Wilwatikta ini. Setelah Raden Wijaya, Jayanegara, dan Tribuana Tungga Dewi.
Setelah berhasil membunuh Tabib Tanca yang membunuh Jayanegara dan Tribuana Tungga Dewi, Gajah Mada naik tahta menjadi patih Majapahit pada tahun 1328 M.
Kemudian terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta yang dapat di tumpas oleh Gajah Mada. Ia lantas dingkat sebagai Patih Wirabumi atau Mahapatih pada tahun 1351 M.
Memasuki masa akhir, Majapahit dipimpin Prabu Brawijaya V yang memiliki gelar “Ranawijaya”.
Ia mendapat julukan Sang Prabu Brawijaya ke-V tatkala mudanya bernama Raden Alit atau Raden Alip.
Majapahit berdiri dan menguasai Nusantara memakan waktu cukup lama, di mulai dari kepemimpinan Raden Wijaya hingga Prabu Brawijaya V.
Saat Majapahit dikuasai Bhre Wengker, Raden Patah bersama pasukannya dari Glagah Wangi menyerang dengan tujuan merebut wilayah kekuasaan Wilwatikta.
Namun saat itu pasukan Majapahit sedang dalam banyak misi. Yang tersisa di kerajaan hanya beberapa.
Dengan terpaksa, Danghyang Kepakisan pun turun lapangan dan ikut serta dalam proses pembelaan Majapahit.
Perlu diketahui, Raden Patah berada pada pihak Majapahit, karena Raden Patah adalah putra dari Raja Brawijaya V dan selir dari Cina.
Ia di beri kekuasaan di wilayah Bintoro. pada saat itu Bhre Wengker memiliki kepentingan untuk tetap menguasai Majapahit.
Yang akhirnya membawa Raden Patah berniat untuk membela Majapahit yang saat itu dipimpin oleh ayahnya sendiri, yakni Prabu Brawijaya V.
Pertempuran pun dimenangkan oleh pasukan Raden Patah, yakni parajurit glagah wangi.
Pasukan Majapahit yang saat itu dipimpin oleh Danghyang Kepakisan babak belur oleh Pasukan Bhre Wengker.
Dan Danghyang Kepakisan terbunuh. Sedangkan pasukan Bhre Wengker kembali ke Kediri karena berada di ujung tanduk.
Kemudian Danghyang Kepakisan dimakamkan oleh pasukan Raden Patah secara islam. Di komplek Makam Troloyo Desa Sentonorejo Trowulan.
Ketika terjadi pertempuran segitiga dan sepeninggal Danghyang Kepakisan.
Rana Wijaya diiringi abdi setia Sabdo Palon dan Noyo Genggeng meninggalkan istana dengan menyamar sebagai petani.
Otomatis Kerajaan Majapahit kosong tanpa raja dan senopati. Akhirnya dari ini Kerajaan Majapahit mengalami kekosongan selama sekitar 22 tahun.
Di sisi lain, Raden Wijaya kembali ke Glagah Wangi dan mendirikan sebuah kerajaan baru pada tahun 1500 M yang diberi nama ”Demak Bintoro” dengan sistem kesultanan.
Dengan Raden Patah sebagai sultan pertamanya karena Raden Patah ini masih ada garis keturunan dengan Majapahit, maka saat itu Majapahit dibawah kepemimpinan Raden Patah dan kekuasaan Demak Bintoro.
Setelah kekosongan tahta itu terjadi, banyak pula terjadi perebutan tahta antar sesama saudara.
Banyak yang mengeklaim dirinya sebagai Prabu Brawijaya selanjutnya tanpa melalui kesepakatan dan lain sebagainya.
Akhirnya Raden Patah pun mengetahui perihal keadaan Majapahit porak poranda. Demak Bintoro pun melakukan penyerangan terhadap Majapahit untuk kudeta.
Alasan Demak menyerang bukan karena berkeinginan untuk melawan kerajaan leluhurnya, melainkan karena Raden Patah ingin mengambil kembali mahkota kerajaan serta posisi Majapahit yang saat itu dalam keadaan porak poranda.
Dalam hal ini para wali sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Raden Patah, seperi Sunan Giri dan Sunan Kalijaga.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa serangan Raden Patah terhadap Majapahit disebabkan karena mengambil haknya sebagai pewaris.
Tetapi ternyata alasan sebenarnya adalah Raden Patah ingin memerangi karena dalam misi mensyiarkan agama islam.
Maka dari itu Raden Patah mendapat dukungan dari Sunan Giri.
Pada tahun 1517, salah satu orang Portugis yang ada di Malaka berulah. ia mengundang kemarahan Raden Patah, yakni Pabu Tala.
Pabu Tala dapat ditaklukan, namun tetap diampuni karena Pabu Tala adik ipar dari Prabu Brawijaya V.
Menurut Kronik Cina, Pabu Tala meninggal pada tahun 1527 sebelum Pasukan Demak merebut istana.
Peristiwa ini menandai berakhirnya pemerintahan Dyah Ranawijaya sehingga Raden Patah mengisi kekosongan pemerintahan tersebut.
Dan pengikut Pabu Tala yang menolak kekuasan pemerintahan Demak kemudian melarikan diri ke Bali dan ke Gunung Kidul.
Dari cerita diatas dapat disimpulkan, bahwa Raden Patah menempati tahta kekuasaaan majapahit yang saat itu sedang porak poranda dan mengukuhkan serta meresmikan diri menjadi nama Brawijaya VI dengan menduduki keraton Majapahit.
Hal ini dibuktikan dengan Candra Sangkala Naga Sarpa Wigha Tunggal 1388 Saka / 1566 M.
Naga Adalah sebutan nama ular, dan sarpa adalah kecil. Hal ini melambangkan ayah dan anak yang merebut kembali kekuasaan dan melewati rintangan dalam meraih tahta. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya