RADAR MAJAPAHIT – Raden Wijaya medirikan sebuah pesanggrahan untuk di tempati sementara selama proses pembukaan Alas Trik.
Hal ini berdasarkan petunjuk yang diberikan Ki Belawung untuk didirikan tempat peristirahatan sementara yang titiknya di Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
Di wilayah tersebut Raden Wijaya bertemu dengan seorang ahli agama.
Yakni, Satim Singomoyo. Ia bermukim di lokasi yang hendak dibangun pesanggrahan.
Disana, Raden Wijaya juga hendak membangun padepokan kanuragan yang diberi nama Pakuwon Isun.
Yang disingkat pakis, terlebih wilayah tersebut juga dipenuhi oleh pohon pakis.
Dan untuk memenuhi kebutuhan pangan Raden Wijaya dan pasukannya, mereka mendirikan pawon sewu atau dapur umum.
Menurut warga, pawon sewu berada di Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis.
Namun kini bangunan kuno tersebut telah terkubur dibawah tanah yang di atasnya dibangun rumah warga.
Pakuwon sendiri berarti tempat kedudukan sementara, sedangkan isun adalah kata ganti dari aku.
Isun disini yakni merujuk pada Raden Wijaya. Jadi, pakuwon isun ialah tempat tinggal sementara Raden Wijaya.
Nama Pakis dimanfaatkan untuk bersembunyi dari tilik sandi atau mata mata pasukan Jayakatwang.
Jadi, pasukan Jayakatwang mengetahui di wilayah tersebut hanya sekedar ada pohon pakis.
Waktu terus berlalu, proses pembukaan Alas Trik sudah separo jalan.
Karena banyak kawula kerajaan Singasari yang dulu ketika diserang Jayakatwang melarikan diri kini kembali pada Raden Wijaya untuk membantu proses pembukaan Alas Trik.
Di sana mereka mendirikan beberapa perdukuhan di bawah kaki gunung Mojo seperti Mojoagung dan Mojolegi.
Untuk memudahkan perkumpulan punggawa-punggawa tersebut, Raden Wijaya pun mendirikan sebuah tempat pertemuan yang letaknya berada di tempat lebih tinggi.
Raden Wijaya memberinya nama Siti Inggil. Lemah artinya tanah, inggil berarti tinggi.
Situs Siti Inggil terletak sekitar 3 km dari Pakis atau kini menjadi Desa Bejijong.
Memang disengaja antara pakuwon dan Siti Inggil terletak lumayan jauh.
Ini bagian dari strategi Raden Wijaya untuk menyembunyikan pakuwon dari intaian mata mata suruhan Jayakatwang. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya