RADAR MAJAPAHIT – Rupanya daun lontar di era Majapahit yang punya peran penting dalam pertukaran informasi dan pengembangan budaya literasi.
Itu karena daun pohon jenis palem ini diproses sedemikian rupa hingga dijadikan sebagai media tulis.
Dalam hal komunikasi, masyarakat Majapahit mengandalkan beberapa media tulis yang berbeda.
Selain daun Lontar, prasasti dari bahan batu dan kayu juga dijadikan media untuk berkomunikasi sejak berdirinya Wilwatikta pada abad ke-13 masehi.
Kendati begitu, daun lontar merupakan salah satu media tulis yang paling umum digunakan pada masa Majapahit.
Daun ini diperoleh dari pohon lontar (Borassus flabellifer), yang memiliki sifat tahan lama setelah melalui proses pengolahan.
Proses pembuatan media tulis dari daun lontar dimulai dengan merendam daun kering dalam air panas.
Sering kali dicampur rempah-rempah untuk meningkatkan kualitasnya.
Setelah direndam, daun dijemur hingga mengeras dan kemudian digosok untuk mendapatkan permukaan yang halus dan mengkilap.
Untuk menulis di atas daun lontar, masyarakat menggunakan alat khusus bernama Pengutik, yaitu pisau kecil yang digunakan untuk menggurat huruf dan aksara.
Setelah huruf terukir, permukaan lontar diolesi dengan minyak kemiri yang dibakar untuk memberikan warna hitam pada ukiran.
Media ini tidak hanya digunakan oleh kalangan pujangga untuk menulis karya sastra seperti Negarakertagama dan Sutasoma.
Tetapi juga untuk surat menyurat resmi kerajaan Majapahit.
Selain Daun Lontar, masyarakat Majapahit juga menggunakan media lain seperti kayu untuk menulis.
Penggunaan kayu sebagai media tulis biasanya terkait dengan kebutuhan praktis dalam komunikasi sehari-hari.
Meskipun tidak sepopuler daun lontar atau prasasti, kayu tetap menjadi pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan media sementara untuk mencatat informasi.
Warisan budaya yang ditinggalkan melalui penggunaan daun lontar sangat signifikan. Banyak karya sastra dan dokumen penting dari era Majapahit yang masih dapat dipelajari saat ini berkat tradisi penyalinan oleh masyarakat.
Mereka menyalin naskah-naskah kuno di atas daun lontar untuk melestarikan pengetahuan dan budaya leluhur
Meskipun banyak naskah asli tidak tersisa, isi dari karya-karya tersebut tetap hidup melalui salinan-salinan yang ada. (RIZQI)
Editor : Martda Vadetya