Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Begini Kisah Berdirinya Candi Bajang Ratu, Cagar Budaya Peninggalan Era Majapahit di Trowulan

Martda Vadetya • Jumat, 1 November 2024 | 13:00 WIB
Foto Candi Bajang Ratu (Istimewa).
Foto Candi Bajang Ratu (Istimewa).

RADAR MAJAPAHIT – Candi Bajang Ratu berlokasi di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Candi bercorak Hindu tersebut didirikan sebagai bentuk penghormatan atas kematian Raja Jayanegara.

Berdasarkan kitab Pararaton Raja Jayanegara "kembali ke dunia Wisnu" pada tahun 1328 Saka.

Gapura Bajang Ratu memiliki keterkaitan dengan Raja Jayanegara yang menjabat sebagai raja kedua Kerajaan Majapahit.

Jayanegara naik takhta pada tahun 1309 masehi dan wafat pada tahun 1328 masehi.

Gapura Bajang Ratu muncul sebagai hasil dari peristiwa setelah meninggalnya Raja Jayanegara pada tahun 1328 Masehi.

Dengan selisih waktu 12 tahun, candi dibangun oleh Raja Tribuwana Wijaya Tungga Dewi dalam rangka menghormati sosok Raja Jayanegara yang telah meninggal.

Saat dibangun, diadakan upacara agama yang dikenal sebagai Upacara Sradha.

Upacara ini merupakan tradisi umat Hindu di Jawa pada kala itu untuk menghormati arwah seseorang yang telah meninggal. Ritual ini dikenal sebagai upacara Ngaben di Bali.

Tradisi Sradha di Majapahit adalah bagian dari kebudayaan Jawa yang telah terdokumentasikan dalam karya besar kakawin Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad ke-14.

Upacara hasil akulturasi tradisi Hindu-Buddha ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "ziarah kubur".

Candi Bajang Ratu sendiri merupakan struktur bangunan suci yang berbentuk gapura.

Nama "Bajang Ratu" diambil dari kata "bajang" yang berarti kecil, dan "ratu" yang berarti raja, sehingga "Bajang Ratu" dapat diartikan sebagai "raja kecil".

Hal ini merujuk pada Raja Jayanegara yang pada saat itu menjadi raja pada usia 15 tahun.

Pada usia 35 tahun, kekuasaannya berakhir tragis ketika ia dibunuh oleh tabib pribadinya sendiri yang bernama Ratanca.

Raja Jayanegara tercatat sebagai sosok pemimpin yang angkuh sikapnya menimbulkan ketidakpuasan di antara berbagai pihak, termasuk pendukung ayahnya sendiri.

Kepemimpinannya seringkali menuai kritik dan ketidaksetujuan dari banyak orang, yang akhirnya membawa konsekuensi tragis bagi pemerintahannya.

Gapura Bajang Ratu yang menyerupai sebuah candi ini diyakini sebagai pintu masuk ke bangunan suci. (WIDYA)

Editor : Martda Vadetya
#Raja Jayanegara #mojokerto #majapahit #trowulan #Bajang ratu