RADAR MAJAPAHIT – Sejumlah peninggalan era kerajaan Majapahit yang ada di wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, rupanya memiliki kisah mitos dibaliknya.
Salah satunya seperti mitos yang berkembang di masyarakat atas berdirinya Candi Bajang Ratu di Dusun Kraton, Desa Temon.
Candi Bajang Ratu diyakini menjadi simbol kutukan bagi kelompok sosial tertentu terutama para pejabat yang hidup di Dusun Kraton.
Mitos yang berkembang di candi ini menjadi lawan dari praktik religius sebelumnya diyakini dan diamalkan oleh masyarakat Jawa.
Mitos penurunan jabatan di Candi Bajang Ratu menciptakan suasana ketakutan dan kehormatan yang melekat pada tempat tersebut.
Masyarakat Dusun Kraton meyakini bahwa memasuki Candi Bajang Ratu terutama bagi pejabat, akan mengakibatkan penurunan jabatan atau nasib buruk.
Keyakinan ini justru membuat orang menghormati Candi Bajang Ratu dengan menghindari risiko tersebut.
Dampak sosial dari mitos tersebut juga tercermin dalam perilaku masyarakat ketika berada di kompleks candi.
Masyarakat cenderung bertindak dengan hormat ketika berada di tempat tersebut hal itu menunjukkan bahwa pengaruh kuat dari mitos yang ada.
Hal yang biasanya dilakukan mereka mungkin menghindari ruang tertentu atau menghindari tindakan yang dianggap dapat menyebabkan kesialan sesuai dengan berkembangnya mitos.
Dengan cara menceritakan mitos-mitos yang terkait Candi Bajang Ratu, justru menjadikan destinasi wisata sejarah ini lebih menarik bagi para wisatawan.
Para pengunjung dapat merasa tertarik untuk menjelajahi dan memahami lebih dalam tentang tempat tersebut.
Yang dampaknya bisa meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menghasilkan pendapatan ekonomi bagi warga sekitar.
Selain itu, mitos-mitos tersebut juga membantu dalam menyebarkan warisan budaya dan sejarah lokal kepada khalayak luas. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya