RADAR MAJAPAHIT – Candi Tikus di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, memiliki peran penting dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Utamanya terkait dengan mitos yang menghubungkan tikus dengan pertanian.
Kisah ini terkait dengan sejarah penemuan candi dan memberikan dampak positif pada kehidupan para petani.
Dikatakan bahwa ketika tanaman mereka diserang oleh hama tikus atau untuk mencegah gagal panen, petani mengadopsi keyakinan untuk menggunakan air dan objek-objek tertentu yang berasal dari Candi Tikus.
Ritual yang dipimpin oleh juru pemelihara candi harapannya mereka akan terhindar dari serangan hama tikus yang dapat merugikan hasil panen.
Menurut keyakinan lokal, Candi Tikus awalnya merupakan petirtaan suci atau pemandian suci yang digunakan oleh raja beserta keluarganya sebelum melaksanakan upacara keagamaan.
Pada masa lalu, candi ini mungkin dipenuhi dengan doa-doa dan bunga sehingga menciptakan atmosfer yang sarat makna spiritual.
Candi Tikus bukan hanya sebagai warisan budaya fisik, tetapi juga menjadi simbol kekuatan spiritual yang dapat melindungi dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Candi Tikus membawa mitos kedua yang merinci sejarah dan fungsi suci dari situs ini.
Secara menyeluruh, air suci memiliki peran sentral dalam kepercayaan dan kehidupan masyarakat Desa Temon, khususnya para petani, yang menganggapnya sebagai sumber keberkahan dan kehidupan yang esensial.
Asal usul air suci di Candi Tikus dihubungkan dengan ajaran Hindu pada masa Majapahit.
Di mana air suci dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik keagamaan dan spiritualitas masyarakat pada zaman tersebut.
Dalam pandangan agama Hindu, konsep Panca Mahabuta memuat lima unsur, dan air dianggap sebagai unsur yang memiliki makna khusus.
Unsur-unsur lainnya mencakup akasa (zat ether, angkasa), banyu (angin), teja (cahaya, sinar), dan pertiwi (bumi, zat padat).
Semua istilah ini merujuk pada makna mendalam tentang peran air dalam kehidupan.
Keaslian manfaat air suci Candi Tikus telah menjadi topik perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat sekitar.
Informasi mengenai khasiat air suci ini tersebar melalui pengalaman pribadi warga sekitar yang saling berbagi melalui komunikasi lisan.
Air suci di Candi Tikus diyakini memiliki kekuatan magis yang dapat digunakan petani untuk melawan serangan hama tikus dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Mitos ini mencerminkan hubungan erat antara kehidupan sehari-hari, dimensi spiritual, dan warisan budaya yang menambah nuansa mistis pada Candi Tikus dalam kesadaran masyarakat setempat. (*)
Editor : Martda Vadetya