RADAR MAJAPAHIT – Majapahit bukan hanya dikenal sebagai kerajaan agraris. Teknologi kemaritiman disebut telah dikembangkan pada era berdirinya Wilwatikta, atau abad ke-13 masehi.
Sumpah Palapa sebagai salah satu bukti sejarah penguasaan Nusantara kala itu, sekaligus menunjukkan penundukan jalur dagang di wilayah Asia Tenggara tersebut.
Kala itu, Majapahit disebut memonopoli perdagangan se-Nusantara.
Sungai brantas menjadi salah satu jalur perdagangan utama pada tahun 1293 sampai 1527 masehi.
Karena menghubungkan wilayah pedalaman seperti Batu, Malang, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dengan wilayah pesisir tempat pelabuhan seperti Pasuruan.
Kerajaan Majapahit juga menjalin hubungan diplomatik dengan beberapa negara adidaya untuk melanggengkan kekuasaannya.
Seperti Cina dan India, kemudian negara-negara lain di bawah pengaruh kekuasaan Majapahit, yaitu Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.
Selanjutnya Majapahit memusatkan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Bubat, yang terletak di sebelah utara tepi Sungai Brantas, hasil dagang tersebut dibawa ke Surabaya terdahulu sebelum di antar menuju ibu kota Majapahit di Trowulan atau sekarang masuk wilayah Kabupaten Mojokerto.
Keistimewaan dari Kerajaan Majapahit terletak pada kemampuannya dalam menyinergikan tradisi perniagaan laut dan tradisi agraris dengan potensi kemaritiman yang baik.
Selain itu juga dapat mengatur sirkulasi barang dagangan, serta menindak tegas bagi setiap pemberontak, baik yang terjadi di darat maupun di laut.
Hal tersebut merupakan salah satu strategi pengamanan wilayah maritim Kerajaan Majapahit.
Kekuatan maritim Wilwatikta juga dikenal mumpuni karena memiliki jalur perdagangan yang sangat penting pada masa itu.
Jalur perdagangan Majapahit meliputi beberapa jalur laut dan darat yang strategis, sebagai berikut.
Jalur laut utara. Jalur ini meliputi perairan Laut China Selatan dan Selat Malaka.
Perdagangan di jalur ini dilakukan antara Kerajaan Majapahit dengan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea.
Barang-barang yang diperdagangkan meliputi sutra, keramik, teh, dan rempah-rempah.
Jalur laut selatan. Jalur laut selatan meliputi perairan Laut Hindia bagian selatan yang menghubungkan Majapahit dengan negara-negara seperti India, Arab, dan Afrika Timur.
Barang yang diperdagangkan meliputi sutra, rempah-rempah, kayu, dan gading.
Jalur laut timur. Jalur ini meliputi perairan Samudra Pasifik dan Lautan Hindia bagian timur.
Perdagangan di jalur ini dilakukan antara Kerajaan Majapahit dengan negara-negara seperti Filipina, Jepang, dan Korea.
Sedangkan barang-barang yang diperdagangkan meliputi gading, kayu, dan biji-bijian.
Jalur darat. Jalur darat meliputi jalur perdagangan antara Kerajaan Majapahit dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Siam, Khmer, dan Vietnam.
Kekuatan maritim Kerajaan Majapahit juga karena adanya pelabuhan-pelabuhan yang strategis di sepanjang pesisir Jawa.
Seperti Surabaya, Tuban, Gresik, Semarang, dan Cirebon. Pelabuhan-pelabuhan ini digunakan untuk memfasilitasi perdagangan dan mengontrol lalu lintas kapal di wilayah Kerajaan Majapahit.
Jalur perdagangan ini sangat penting bagi Kerajaan Majapahit karena memungkinkan untuk mengambil keuntungan dari sumber daya alam yang ada di wilayahnya dan memperkuat kekuatan ekonomi dan politiknya di wilayah Asia Tenggara.
Dengan adanya jalur perdagangan ini, Kerajaan Majapahit menjadi pusat perdagangan yang sentral pada masa itu dan menjadi negara yang berpengaruh di wilayahnya. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya