RADAR MAJAPAHIT – Majapahit termasyhur sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara dengan kondisi ekonomi dan politik yang terbilang apik dan stabil pada masanya.
Hal ini tak lepas dari ditelurkannya sejumlah kebijakan strategis yang di antaranya tergurat pada prasasti.
Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya, Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai wilayah Nusantara.
Pada tahun 1358 M, Prasasti Canggu dibuat saat Wilwatikta berusaha memperkuat kontrolnya atas jalur perdagangan yang vital. Yakni di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo.
Prasasti Canggu mencakup pengaturan status desa penyeberangan yang terletak di sepanjang dua sungai utama di Pulau Jawa tersebut.
Dalam prasasti yang ditulis Raja Hayam Wuruk ini, terdapat penetapan hak istimewa bagi pengelola pelabuhan yang dikenal dengan nama Panji Marggabhaya.
Hal ini menunjukkan adanya sistem pemerintahan yang terstruktur dalam mengelola kegiatan perdagangan dan transportasi.
Dokumen ini mencantumkan sekitar 44 desa penyeberangan yang memiliki peranan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi.
Dengan adanya pengaturan ini, Majapahit tidak hanya mengatur lalu lintas barang dan orang.
Tetapi juga menciptakan peluang bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam perdagangan.
Ini menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan kerajaan serta memperkuat posisi Majapahit sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara.
Prasasti Canggu memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian lokal.
Dengan adanya pengaturan resmi mengenai desa penyeberangan, para pedagang dapat melakukan transaksi dengan lebih aman dan terjamin.
Selain itu, masyarakat setempat juga mendapatkan keuntungan dari aktivitas perdagangan yang meningkat. Dengan kata lain, mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.
Secara sosial, prasasti ini mencerminkan adanya hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Dengan memberikan hak istimewa kepada pengelola pelabuhan dan desa penyeberangan, Majapahit menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Hal ini juga menjadi cerminan dari kebijakan inklusif yang diterapkan penguasa saat itu, Raja Hayam Wuruk, untuk menjaga stabilitas dan kemakmuran kerajaan.
Prasasti Canggu bukan hanya sekadar dokumen sejarah, prasasti ini adalah cermin dari kebijakan strategis Kerajaan Majapahit dalam mengelola sumber daya alam dan manusia demi mencapai kejayaan.
Melalui pengaturan yang jelas mengenai desa penyeberangan dan hak istimewa bagi pengelola pelabuhan, Majapahit berhasil menciptakan sistem perdagangan yang efisien dan berkelanjutan.
Dengan demikian, prasasti ini menjadi salah satu warisan budaya yang penting untuk dipahami dalam konteks sejarah Indonesia, serta memberikan pelajaran berharga tentang manajemen sumber daya dan hubungan sosial di masa lalu. (RIZQI)
Editor : Martda Vadetya