KABUPATEN - Eksplorasi cagar budaya di Gunung Penanggungan telah rampung digelar. Hasil pemindaian metode light detection and ranging (LiDAR) oleh tim riset gabungan menunjukkan keberadaan ratusan titik cagar budaya potensial di kawasan Pawitra, gunung suci era Majapahit.
Sejatinya, penelitian bertajuk LIDAR Mission Over Mount Penanggungan yang dimotori tim riset gabungan dari Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra BRIN, Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), termasuk BPK Wilayah XI Jatim ini dilaksanakan bertahap sejak Juli hingga tuntas akhir September lalu.
Tim riset gabungan melakukan eksplorasi pemetaan, dokumentasi serta identifikasi digital sumber daya arkeologi dan warisan budaya di gunung purba setinggi 1.653 mdpl (meter di atas permukaan laut) tersebut.
Dokumentasi digital dilakukan dengan aplikasi pemindaian 3D LiDAR yang menyasar kawasan seluas 150 km persegi.
Hasil pemindaian sementara telah mendata lebih dari 800 titik potensial yang menggambarkan kompleksitas lanskap warisan budaya di Penanggungan.
Data temuan tersebut telah dilakukan ground survey dan akan dilanjutkan bertahap dengan riset jangka panjang.
Salah satunya, telah dilakukan input dan verifikasi data potensial di Jalur Kedungudi Trawas-Candi Putri. Hasil riset sementara tersebut telah dilakukan sharing session dan workshop dengan pihak terkait.
’’Untuk LiDAR di Penanggungan kemarin sudah ada hasilnya dan ada workshop-nya juga,’’ ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur Endah Budi Heryani membenarkan.
Meski begitu, pihaknya belum bisa menyampaikan detail terkait hasil riset arkeologis tersebut. ’’Karena yang mengadakan BRIN, datanya ada di BRIN,’’ tandasnya.
Untuk diketahui, LiDAR merupakan metode pendeteksian objek berbasis pantulan sinar laser yang menembus rimbunnya vegetasi pegunungan untuk mengukur jarak objek yang ada di permukaan bumi.
Sekaligus mengonstruksikan peta topografi atau model permukaan tanah secara akurat.
Pemindaian ini dinilai sebagai metode yang efektif untuk mendeteksi sebaran cagar budaya di kawasan Pawitra.
Tujuannya melengkapi lebih dari 100 cagar budaya yang telah terdata sejak Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya tingkat provinsi pada 2017 silam.
Eksplorasi ini diharapkan berdampak banyak bagi khazanah arkeologis di Gunung Penanggungan.
Karena diyakini masih banyak tinggalan cagar budaya sisa peradaban klasik yang belum terdeteksi.
Beberapa tinggalan purbakala yang telah tercatat, yakni Situs Candi Selokelir hingga jalur kuno kereta kuda.
Pelengkapan data cagar budaya ini nantinya digunakan sebagai acuan fungsi pelestarian dan perawatan cagar budaya oleh pemerintah. (vad/fen)
Editor : Martda Vadetya