RADAR MAJAPAHIT – Beragam sisa peradaban kerajaan Majapahit tersebar di penjuru wilayah Kabupaten Mojokerto.
Mulai dari artefak, prasasti, candi hingga sumber mata air yang masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat masa kini.
Salah satunya, sumber mata air Banyu Panguripan yang terletak di tengah hutan Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Mata air yang disebut sudah ada sejak sebelum kerajaan Majapahit berdiri ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Menurut Siriadi, sesepuh Desa Pakis, munculnya sumber mata air Banyu Panguripan berawal dari Raden Wijaya yang sedang melarikan diri dari Kerajaan Singosari.
Pada kala itu Kerajaan Singosari diserang oleh Kediri. Kerajaan Singosari mengalami kekalahan yang mengakibatkan Raden Wijaya melarikan diri bersama pasukannya.
Di antaranya, Lembu Suro, Ronggo Lawe, dan Nambi. Mereka melarikan diri ke tempat yang sekarang dikenal sebagai Situs Makam Pangeran Alit.
Saat itu pula istri Raden Wijaya bernama Nyai Pandan Sari sedang mengandung.
Dalam pelariannya itu Nyai Pandan Sari mengalami keguguran sehingga anak dari Raden Wijaya meninggal dunia.
Raden Wijaya lantas mencari air untuk memandikan jasad putranya. Tetapi di daerah tersebut sedang terjadi musim kemarau panjang sehingga sangat sulit untuk mencari air.
Para prajurit Raden Wijaya terus mencari sumber air hingga sehari semalaman. Namun tak membuahkan hasil.
Kemudian seorang ‘abdi kinasih’ atau tangan kanan Raden Wijaya bernama Ki Luhur atau lebih dikenal dengan nama Joko Suruh pergi ke titik sumber mata air Banyu Panguripan.
Ki Luhur menghentakkan kaki sebanyak tiga kali diatas tanah kemudian menyembur air dari dalam tanah.
Air tersebut kemudian dibawa untuk memandikan putra Raden Wijaya yang wafat karena keguguran.
Sumber mata air Banyu Panguripan kini disakralkan warga karena memiliki sejumlah keistimewaan.
Salah satunya, air yang tidak pernah kering dan selalu mengalir meski sedang kemarau panjang. Selain itu, airnya dipercaya mujarab dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Pada tahun 1985 silam, terdapat seorang pengunjul asal kecamatan Mojowarno yang mengalami penyakit kulit gatal-gatal.
Dia kemudian mandi di sumber mata air Banyu Panguripan. Penyakit gatal-gatal yang di derita sembuh selepas mentas mandi.
Selebihnya, banyak pengunjung yang memanfaatkan mujarabnya air sakral tersebut.
Bahkan, pengunjung yang menderita penyakit stroke pun sembuh usai mandi di sumber mata air era Majapahit tesebut. (widya)
Editor : Martda Vadetya