RADAR MAJAPAHIT – Ekskavasi tahap V Situs Kumitir yang tuntas digelar pekan lalu rupanya tak hanya fokus pada penelusuran sebaran struktur bangunan kuno.
Dilibatkannya sejumlah tim ahli dalam penggalian arkeologis ini di antaranya untuk menelusuri dugaan rusaknya istana Majapahit tersebut yang disebabkan bencana alam.
Sejauh ini, rusaknya Situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumtir, Kecamatan Jatirejo diasumsikan akibat bencana alam.
Baik diterjang banjir lahar dingin hingga terkubur akibat letusan Gunung Arjuno dan Welirang. Hal ini, mengacu adanya tumpukan batu boulder atau batu gunung yang menimbun area inti situs.
Hingga sebagian besar konstruksi situs yang terdiri dari susunan bata merah rusak parah.
Meski tumpukan batu alam tersebut terkesan hanya terkonsentrasi dan tersusun rata pada area inti Istana Bhre Wengker tersebut.
Artinya, pada area sekitar bangunan kuno era Majapahit tersebut minim ditemukan ceceran batu boulder.
”Terkait bekas bencana alam ini biar nanti disampaikan ahlinya dari hasil kajian yang dilakukan di sini. Untuk sementara ini kami masih belum bisa sampaikan,” ujar Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir M. Ichwan, kemarin.
Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim ini mengungkapkan, pihaknya belum bisa bicara gamblang lantaran pengkajian oleh tim ahli kini tengah berproses.
Dalam ekskavasi tahap V Situs Kumitir yang berlangsung pada 17 September hingga 9 Oktober lalu itu, BPK Wilayah XI Jatim menggandeng Departemen Teknik Geologi UGM hingga ahli bidang geologi pusat riset kebencanaan geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tak lain, untuk mempertajam kajian hasil penelusuran arkeologis tersebut.
”Salah satunya, tim ahli ini melakukan uji karbon (carbon dating) lapisan tanah di area situs,” bebernya.
Hasil observasi tim arkelog BPK Wilayah XI Jatim sendiri, struktur bata kuno yang ditampakkan di empat titik seluas 500 meter persegi sasaran ekskavasi kali ini mengindikasikan rusak akibat ulah manusia.
Kerusakan akibat non-faktor alam ini diperkirakan mencapai lebih dari 60 persen.
”Untuk yang kita tampakkan kali ini, rusaknya karena aktivitas produksi bata atau linggan. Kerusakannya cukup signifikan. Namun, secara global kami belum bisa pastikan persentasenya sampai berapa,” tandas arkeolog alumnus Universitas Udayana ini. (vad/ris)
Editor : Martda Vadetya