SOOKO – Ekskavasi lanjutan di Situs Bhre Kahuripan yang anggarannya bersumber dari Pemkab Mojokerto selama sepekan ini menuai hasil.
Salah satunya menemukan bagian struktur yang identik dengan ruang pemujaan di halaman utama candi yang dibangun pada era Raja Hayam Wuruk tersebut.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan M. Ichwan menuturkan, ekskavasi menggunakan anggaran Rp 150 juta yang berlangsung sejak Senin (22/7) lalu, ini memang difokuskan pada dua titik penggalian.
Yakni, pada struktur tapak gapura dan pilar pagar di barat candi era Majapahti berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi tersebut.
”Dua titik ini sebenarnya sudah ditampakkan sebelumnya, tapi hanya sebagian saja. Sekarang sudah kita tampakkan sebagian besar, terutama bagian tapak gapura,” beber arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim ini, Sabtu (27/7).
Selain memperjelas tapak gapura berbentuk cruciform dengan dimensi sekitar 11 meter, tim ekskavasi mendapati indikasi pola keruangan anyar.
Hanya berjarak sekitar 2 meter dari tapak gapura utama candi tersebut. ”Ada struktur yang menjorok keluar (ke arah timur) yang sementara kami duga sebagai tapak pilar berdimensi sekitar 3 meter,” urainya.
Struktur bata kuno itu mengindikasikan adanya pola keruangan baru yang melengkapi hasil ekskavasi sebelumnya.
Ichwan menyebut sudut pilar tersebut merupakan bagian dari tiga sudut pilar yang sebelumnya sudah teridentifikasi.
”Strukturnya terhubung dengan sudut lainnya di sisi barat daya, tenggara dan timur laut. Ternyata empat sudut ini sudah terhubung, karena sebelumnya sudah pernah dibuka (di ekskavasi sebelumnya),” paparnya.
Tim arkeolog menduga struktur berdimensi sekitar 20 meter persegi itu membentuk pola keruangan tersendiri di samping gapura utama candi.
”Apakah merupakan bilik atau ruang tersendiri, kami belum dapat memastikan. Karena masih perlu kajian lebih lanjut lagi,” tandas arkeolog ulumni Universitas Udayana ini.
Demikian juga dengan fungsi pola ruangan yang disinyalir kuat sebagai bagian dari tempat pemujaan di era Hindu-Buddha.
Dimungkinkan strutur itu sebagai bagian dari bangunan peribadatan zaman Majapahit.
Sebagaimana lazimnya keberadaan struktur bangunan di halaman utama candi era klasik yang identik dengan bangunan sakral peribadatan.
”Di dalam halaman utama candi yang identik dengan bangunan sakral ini memang masih ada ruangan lagi (selain candi). Tapi, sejauh ini memang masih belum teridentifikasi, termasuk fungsinya,” tandasnya.
Ke depan, struktur bangunan kuno yang telah ditampakkan bakal dibiarkan terbuka alias tidak diuruk kembali. Oleh tim ekskavasi, sekelilingnya hanya dipasang pagar bambu. (vad/ris)
Editor : Martda Vadetya