RADARMAJAPAHIT - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim menggulirkan ekskavasi lanjutan Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto.
Area kebun tebu menjadi sasaran penggalian untuk menelusuri pola keruangan di sisi timur candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini.
Ketua tim ekskavasi Situs Bhre Kahuripan M Ichwan menuturkan, ekskavasi berlangsung selama 25 hari terhitung sejak 25 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Persiapan atau pra-ekskavasi dilakukan selama tiga hari pada 19-21 Juni lalu.
’’Sebenarnya ekskavasi ini merupakan tahap V. Karena dua kali ekskavasi sebelumnya itu kajian untuk pengembangan dan pemanfaatan,’’ ujarnya, Rabu (26/6).
Sedikitnya, lebih dari 200 kotak gali ukuran 2x2 meter di utara bangunan utama candi jadi sasaran penggalian.
Ekskavasi kali ini difokuskan pada area lahan yang telah dibebaskan BPK Wilayah XI Jatim pada pengujung 2023 lalu.
’’Pada ekskavasi kali ini kami mencoba mencari sebaran pagar keliling candi di sisi utara dan timur. Tepatnya di sektor kebun tebu sisi timur lapangan sepak bola,’’ terangnya.
Selama dua hari penggalian, lanjut Ichwan, pihaknya telah menampakkan struktur dinding yang terpendam di bawah permuakaan tanah di sejumlah kotak gali.
Susunan bata kuno khas era Majapahit dengan ketebalan sekitar 130 sentimeter (cm) tampak membujur dari barat ke timur.
’’Kami dapatkan struktur di beberapa titik yang, insyaallah masih menyambung dengan pagar sisi utara yang sebelumnya kami dapati di lapangan bola lanjut ke timur,’’ sebut arkeolog jebolan Universitas Udayana ini.
Menurutnya, struktur yang ditampakkan saat ini memiliki tinggi yang beragam. Mulai dari tiga hingga enam lapis bata kuno.
’’Kondisi strukturnya rata-rata masih kompak dan intake. Tapi ketebalannya relatif, apakah sebelumnya dulu pernah ada intervensi masyarakat untuk pertanian atau linggan kita lihat perkembangannya nanti,’’ bebernya.
Sejauh ini, kata Ichwan, sudut pagar keliling di ujung timur situs peninggalan Raja Hayam Wuruk ini masih belum terlacak.
Tim ekskavasi tengah menelusuri seberan cagar budaya hingga ke ujung timur kompleks situs berangka tahun 294 saka atau 1372 mesehi yang bersinggungan dengan jalan desa ini.
’’Sementara ini sudut pagar keliling di sisi timur masih belum kelihatan, masih proses,’’ ucap Ichwan.
Selain menampakkan struktur, tim ekskavasi turut mendapati sejumlah temuan lepas.
Yakni, berupa fragmen genting alias kreweng dan keramik kuno.
’’Sementara untuk temuan lepas masih sama seperti di sasaran gali pada pagar keliling sebelumnya. Masih belum kita dapati temuan lepas yang spesifik,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Martda Vadetya