Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Temukan Nisan dan Makam Kuno Saat Pemugaran Candi Kedaton

Martda Vadetya • Sabtu, 11 Mei 2024 | 06:53 WIB
BERSEJARAH: Situs Candi Kedaton kondisinya terjaga sejak setalah dipugar puluhan tahun silam. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
BERSEJARAH: Situs Candi Kedaton kondisinya terjaga sejak setalah dipugar puluhan tahun silam. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT – Situs Candi Kedaton di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, merupakan salah satu cagar budaya era Majapahit. Tidak sedikit pula beragam tinggalan kuno ditemukan di area situs.

Situs Candi Kedaton ditemukan bersamaan dengan Situs Sumur Upas pada tahun 1930–an silam. Kala itu, hanya struktur bangunan kaki candi yang tersisa. Hingga pemugaran dilakukan tahun 1996 hingga 2003 oleh Balai Pekesatarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.

”Saat penggalian yang nampak pertama kali adalah kaki candi yang berada di pojok sisi timur pintu masuk,” ungkap Mi’in, Juru Pelihara Candi Kedaton.

Candi Kedaton ini memiliki bentuk persegi yang tersusun dari batu bata merah. Candi ini memiliki panjang 12,5 meter, lebar 9,8 meter, dan tinggi 1,46 meter. Saat pemugaran tahun 1996 silam, ditemukan sebuah nisan dan empat makam berisi empat kerangka manusia di atas situs.

Kemudian lubang jenazah dibuat dengan menghancurkan susunan bata sehingga terbentuk lubang dan jenazah dimasukkan. Dengan penemuan tersebut menunjukkan jika situs ini memiliki fungsi yang berbeda pada masa sebelumnya.  

Menurut cerita masyarakat yang beredar, makam tersebut merupakan makam Dewi Murni, Dewi Pandansari, Wahita, dan Puyengan. Wahita dan Puyengan merupakan istri dari Damarwulan (Raja Brawijaya VI) atau Prabu Mertawijaya.

KUNO: Sumur Jobong di area depan Candi Kedaton jadi salah satu bukti sejarah Kerajaan Majapahit di wilayah Trowulan, Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
KUNO: Sumur Jobong di area depan Candi Kedaton jadi salah satu bukti sejarah Kerajaan Majapahit di wilayah Trowulan, Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

Bentuk makam dan batu nisan tersebut menggambarkan jika pemakaman tersebut merupakan makam islam. Setelah dilakukan analisis oleh BPK Wilayah XI Jatim, penemuan kerangka manusia tersebut berasal sekitar tahun 1529 hingga 1650 masehi.

Selain itu, di depan Candi Kedaton juga ditemukan sebuah sumur kuno yang kerap disebut dengan sumur jobong. Sumur jobong merupakan sumber penampungan air yang memiliki periode yang sama dengan Candi Kedaton.

Sumur tersebut dipastikan sebagai tempat penampungan air karena pada lantai dan dindingnya dilapisi lepa yang kedap air serta struktur sumur terbuat dari tanah liat bakar (terakota).

Ciri dari  Sumur Jobong yakni ditanam didalam tanah. Artefak ini banyak dijumpai di Trowulan. ”Saat penggalian, ditemukan berbagai artefak seperti gerabah, arca dari batu andesit, pecahan keramik yang  berasal dari China, Vietnam, atau Eropa dari abad ke 10 hingga 20 Masehi. Semua temuan tersebut dibawa ke PIM atau Museum Trowulan,” pungkas Mi’in. (zukria amelia)

 

Editor : Martda Vadetya
#mojokerto #majapahit #Candi Kedaton #trowulan