JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan yang dibuat oleh Raja dari Bali, yakni Raja Udayana setelah menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa.
Petirtaan tersebut dibangun untuk menyambut putranya, yakni Prabu Airlangga setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.
Candi peninggalan Majapahit ini sudah ada sejak 997 Masehi masih sering digunakan untuk tempat ritual hingga saat ini.
Secara geografis, Candi Jolotundo atau tempat pemandian ini berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Dapat ditemui tepatnya di bukit Bekel, lereng Barat Gunung Penanggungan, atau gunung suci aliran Siwa yang beragama Hindu.
Kawasan ini berada di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Gunung yang berada di atas Candi Jolotundo menghasilkan air yang dialirkan melalui jaringan bawah tanah. Air dari sumber gunung suci tersebut merupakan hal yang penting dalam melaksanakan ritual di petirtaan Jolotundo.
Candi ini memiliki keindahan yang sangat eksotis. Yakni sendang atau tempat airnya dibangun dengan batu andesit hitam yang menjadi struktur utama.
Sedangkan airnya mengalir dari lubang di tengah batu dinding di pemandian tersebut. Dibagian tengah juga terdapat kolam bertingkat dan yang paling bawah terdapat ratusan jenis ikan.
Di sana juga percaya, bahwa saat ikan tersebut diambil, pemandian Jolotundo akan mengalami bencana.
Petirtaan di area Candi Jolotundo ini memiliki dua kolam, yakni satu kolam digunakan untuk mandi dan berendam sang ratu. Sedangkan kolam lainnya digunakan untuk raja. Hingga sekarang, pembagian tersebut masih diterapkan di pemandian Jolotundo.
Air suci di petirtaan Jolotundo ini dikenal sebagai sumber keramat dan memiliki banyak khasiat bagi kesehatan maupun kecantikan. Hal itu sama seperti mitos yang beredar di masyarakat.
Yakni "Barang siapa yang mandi di kolam Jolotundo, maka ia akan memiliki wajah tampan dan cantik layaknya para raja dan ratu di kerajaan Majapahit".
Dari mitos tersebut, banyak pengunjung yang tertarik dan memanfaatkan sumber air di sana untuk menjadikannya perantara kesehatan dan kecantikan.
Terlepas dari kisah mitos yang ada di pemandian Jolotundo tersebut, semuanya tergantung kepercayaan masing-masing individu.
Dari mitos tersebut, menjadikan daya tarik wisatawan setelah sejarahnya yang mewarnai candi Jolotundo tersebut. Para wisatawan percaya, bahwa sumber air Jolotundo dapat memberikan manfaat sesuai keyakinan.
Mulai dari berendam di kolam hingga diminum sebagai obat alami. Selain itu, air suci tersebut dikenal karena dapat menjadikan wajah tetap awet muda.
Selain sebagai tanda cinta seorang ayah kepada anaknya, ada juga keunikan lainnya yang terkenal di candi ini.
Keunikan tersebut yaitu mata air yang berada di dalam area komplek petirtaan candi ini tidak pernah kering, meskipun saat musim kemarau. Selain itu, tempat suci tersebut ramai dikunjungi saat malam satu Suro, yakni tepat pada bulan purnama.
Mereka melakukan perendaman dan memandikan benda pusakanya, dengan ritual untuk mendapatkan berkah. (Nailul Mufarichah)
Editor : Imron Arlado