RADAR MAJAPAHIT, JAWAPOS.COM- Makam Troloyo telah ditemukan sejak tahun 1368 masehi. Diyakini sebagai makam Islam di era Majapahit. Makam itu berada di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang menyimpan berbagai sejarah.
Tidak hanya terdapat makam kakek dari para Walisongo, namun Troloyo juga disebut sebagai punjer Walisongo. Arifin, 53, juru pelihara makam Troloyo mengungkapkan ada tiga makam di dalam area makam Syekh Jumadil Kubro yang disebut sebagai Makam Telu.
Disebut sebagai makam telu karena letaknya yang berjajar dengan dua teman seperjuangannya. Yaitu Syekh Maulana Ibrahim dan Syekh Abdul Qodir Assyni. ”Di Troloyo sendiri juga terdapat dua makam dengan julukan Makam Telu, salah satunya di dalam kawasan Makam Syekh Jumadil Kubro ini,” tuturnya.
Syekh Maulana Sekhah merupakan salah seorang yang cukup beruntung karena dapat dimakamkan satu tempat dengan Syekh Jumadil Kubro yang tidak lain adalah guru dari Syekh Maulana Sekhah.
Tidak hanya berperan sebagai murid Syekh Jumadil Kubro saja, banyak yang berkata bahwa dia juga merupakan salah satu kerabat jauh dari Mbah Syekh Jumadil Kubro.
”Ketiganya sama-sama berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Majapahit dahulu,” imbuhnya.
Meskipun jarang yang berziarah di ketiga makam ini, namun beberapa peziarah yang melihat makam ini akan mendoakan atau sebatas mengirimkan al fatihah untuk ketiga makam ini.
”Karena memang peziarah yang datang hanya berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro jadi ketiga makam ini jarang untuk di lihat publik, namun kita rawat makam ini dengan sebaik-baik nya,” pungkasnya. (Annisa Fadilah)
Editor : Imron Arlado