Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Keunikan Gapura Bong China di Mojokerto

Imron Arlado • Kamis, 25 April 2024 | 01:15 WIB
UNIK: Gapura pintu masuk makam diukir dengan tulisan cina yang menjadi keunikan dan daya tarik bagi pengunjung.
UNIK: Gapura pintu masuk makam diukir dengan tulisan cina yang menjadi keunikan dan daya tarik bagi pengunjung.

RADAR MAJAPAHIT – Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto terdapat sebuah pemakaman Tionghoa yang berseberangan dengan tempat peribadatan umat Islam.

Lebih dari setengah abad tempat ibadah umat Islam ini berseberangan dengan tempat pemakaman umat Tionghoa ini. Hal tersebut tersebut kerap disebut dengan Bong China.

Kasdi, 51, warga setempat mengungkapkan jika Bong China tersebut telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda dengan keunikan tulisan khas China pada gapura pintu masuknya.

TOLERANSI: Wujud perdamaian antara umat Islam dengan umat Tionghoa yang terlihat dari bangunan pemakaman cina yang berseberangan dengan Masjid At Taufiq di Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung.
TOLERANSI: Wujud perdamaian antara umat Islam dengan umat Tionghoa yang terlihat dari bangunan pemakaman cina yang berseberangan dengan Masjid At Taufiq di Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung.

Tidak hanya itu makam tersebut terdapat di kawasan area padat penduduk di Kota Mojokerto. Sehingga banyak warga yang terpaksa bermukim di sekitar area makam tersebut.

”Awal 1992 saya tinggal di area pemakaman Bong China tersebut, tetapi hanya sekitar 10 tahun saja. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih layak,” imbuhnya, Rabu (17/4)

Meskipun ia telah berpindah tempat, namun jaraknya tidak jauh hanya sekitar 1 kilometer (km) saja dari area pemakaman.

Bapak tiga anak ini juga menambahkan bong cino tersebut sudah tidak aktif dikunjungi oleh peziarah sejak tahun 2007 silam.

”Sekarang banyak umat Tionghoa yang memilih untuk memakamkan keluarganya di kompleks pemakaman di Mojosari,” ujarnya.

Selain keunikan tulisan China pada gapuranya. Kompleks pemakaman tersebut juga berseberangan dengan tempat peribadatan umat Islam. Hal tersebut membuktikan adanya toleransi antar umat beragama.

Kasdi juga sempat menceritakan bahwa sebelum dibangunnya Masjid At Taufiq, area tersebut merupakan sebuah area perkebunan. Namun, ia tidak mengetahui pasti tahun dibangunnya masjid tersebut.

”Masjid At Taufiq dibangun beriringan dengan pembangunan Bong Chino ini,” pungkasnya. (Zukria Amelia).

Editor : Imron Arlado
#bong cino #heritage #Kota Mojokerto #kerajaan majapahit