Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sabdo Palon: Penasihat Brawijaya V yang Menjadi Legenda Ramalan Jawa

Imron Arlado • Sabtu, 8 November 2025 | 22:00 WIB
Sabdo Palon yang dipercaya berubah menjadi sosok Semar.
Sabdo Palon yang dipercaya berubah menjadi sosok Semar.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah masa kemunduran kekuasaan Kerajaan Majapahit di Jawa, muncul sosok mistis yang kemudian menjadi legenda, Sabdo Palon.

Ia dikenal sebagai seorang penasihat spiritual dan pandhita sakti yang selalu mengiringi Brawijaya V, raja terakhir dari Kerajaan Majapahit yang beragama Buddha.

Sabdo Palon bukanlah namanya yang sesungguhnya, melainkan sebuah gelar. “Sabdo” berarti memberikan nasihat atau ajaran, sedangkan “Palon” berarti kebenaran yang menggema di seluruh alam semesta.

Dengan demikian, gelar ini menyiratkan seseorang yang berani menyampaikan kebenaran pada raja dan bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya.

Bersama dengan rekannya yang juga legendaris, Noyo Genggong yang artinya “abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang” mereka menjadi simbol pengingat moral dan spiritual di dalam istana.

Menurut cerita, Sabdo Palon bersama Noyo genggong mulai dikenal ketika masa kepemimpinan Ratu Tribhuwanatunggadewi. Sejak dulu, ia bertugas sebagai penasihat spiritual sampai Raja Brawijaya V berkuasa.

Dalam teks kuno seperti Serat Darmagandhul, Sabdo Palon disebut menolak upaya kudeta terhadap Brawijaya V oleh pasukan Demak dan Wali Songo.

Dalam beberapa versi, Sabdo Palon juga dianggap sebagai seorang “peramal ulung” yang menyampaikan masa depan yang melibatkan letusan gunung berapi, bencana, dan perubahan besar dalam tatanan sosial dan budaya Jawa.

Salah satu hal yang paling terkenal tentang Sabdo Palon adalah ramalannya yang tertuang dalam karya seperti Jangka Sabdo Palon atau dikenal juga sebagai “Jangka” sebuah syair yang memprediksi masa depan, pasukan alam, dan perubahan zaman.

Syair yang tertulis dalam Jangka Sabdo berbunyi,

“Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji.”

Syair ini dianggap meramalkan bahwa setelah lima ratus tahun sejak munculnya agama Islam, akan ada masa di mana arah agama dan budaya tertentu akan berubah.

Dalam sebuah nasihat kepada raja, Sabdo Palon dan Noyo Genggong memperingatkan bahwa penyebab kehancuran moral dan administrasi kerajaan harus diperbaiki dengan mengundang ahli yang kompeten agar kerajaan tidak semakin hancur.

Kondisi kerajaan pada masa itu digambarkan mengalami kemerosotan di bidang moral, para pejabat dan anak bangsawan banyak yang mengejar hawa nafsu, dan Sabdo Palon muncul sebagai suara pengingat.

Namun, meskipun setia, Sabdo Palon pada akhirnya berpisah dengan Brawijaya V karena perbedaan prinsip utama, keputusan raja untuk beragama Islam.

Sabdo Palon tidak menerima langkah tersebut, karena menurutnya langit dan bumi sudah menyaksikan komitmen spiritual yang berbeda.

Ia kemudian dikisahkan “berubah” menjadi sosok Semar, tokoh gaib dalam tradisi Jawa yang menjaga dan melindungi Nusantara, dan menyatakan akan kembali dengan tanda-tanda tertentu ketika waktunya tiba. (RIZMA)

 

Editor : Martda Vadetya
#Ratu Tribhuwana Tunggadewi #Brawijaya V #Sabdo Palon #penasihat #semar #ramalan