Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Asal Usul Reog Ponorogo, Seni Tradisional yang Mulanya Digunakan untuk Mengkritik Raja Majapahit

Imron Arlado • Minggu, 19 Oktober 2025 | 02:10 WIB
Ilustrasi Reog Ponorogo, kesenian tradisional yang dulunya digunakan sebagai media untuk mengkritik Raja Majapahit
Ilustrasi Reog Ponorogo, kesenian tradisional yang dulunya digunakan sebagai media untuk mengkritik Raja Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Reog Ponorogo, tarian tradisional dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini bukanlah sekadar hiburan rakyat biasa. Seni tari ini memiliki sejarah kuat dan awalnya merupakan bentuk kritik sosial terhadap Raja Majapahit di masa lalu.

Di antara berbagai cerita mengenai asal-usul Reog, ada satu cerita dalam Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur karya Mashuri dan sebagainya (2011), yang menyebutkan bahwa Reog awalnya digunakan sebagai bentuk kritik terhadap Kerajaan Majapahit pada masa akhir pemerintahannya.

Raja Bhre Kertabumi dikisahkan terlalu bergantung kepada permaisurinya yang cantik dan cenderung mengabaikan nasihat dari para penasihat kerajaan.

Salah satu penasihat yang merasa kecewa adalah Ki Ageng Ketut Suryo Alam, yang pada akhirnya memilih untuk meninggalkan istana karena merasa tidak dihargai lagi. Ki Ageng Ketut Suryo Alam lalu menetap di Desa Kutu, Wengker.

Di sana ia mendirikan semacam padepokan untuk mencetak keterampilan para prajurit dengan standar ksatria. Ia melatih murid-muridnya untuk menjadi prajurit yang berani dan patuh kepada kerajaan.

Meski jauh dari pusat pemerintahan, Ki Ageng Ketut Suryo Alam tetap memikirkan nasib Majapahit yang dinilai telah menyimpang jauh dari tatanan moral dan tata kelola pemerintahan yang seharusnya.

Ia menyadari bahwa melawan secara fisik terhadap kerajaan yang kuat bukanlah jalan yang tepat, karena akan menimbulkan penderitaan bagi rakyat. Dari pemikirannya ini, lahirlah sebuah ide untuk melawan melalui media seni sebagai bentuk kritik yang halus dan sindiran.

Dari pengalaman dan keahliannya di istana, Ki Ageng Ketut Suryo Alam menciptakan tarian Reog yang penuh dengan simbol-simbol serta pesan tersembunyi yang menyoroti keadaan kerajaan.

Simbolisme dalam Reog Ponorogo

Dalam tarian ini, Ki Ageng Ketut Suryo Alam berperan sebagai karakter Warok, dikelilingi oleh murid-muridnya yang mencerminkan para sesepuh yang seharusnya didengar dalam pemerintahan.

Karakter Singo Barong yang mengenakan bulu merak di kepala adalah sindiran yang tajam terhadap kesombongan Raja Bhre Kertabumi yang tidak mau mendengarkan nasihat dan menganggap dirinya lebih tinggi.

Penari kuda atau jathil yang memakai rias feminim melambangkan hilangnya semangat keprajuritan dan ketidakjelasan peran tentara Majapahit yang kini tak lagi disiplin dan berdaya.

Kehadiran Bujang Ganong dengan wajah merah, mata melotot, dan hidung panjang melambangkan sosok pujangga atau orang bijak yang pandangannya tak lagi dianggap oleh raja dan akhirnya terpinggirkan.

Reog bukan hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai kritik yang cukup berani tanpa perlu memicu konflik fisik.

Dengan cara ini, kondisi pemerintahan Majapahit yang telah menyimpang mendapatkan sorotan melalui ekspresi seni yang kuat, bahkan memiliki elemen magis.

Transformasi dan Kelanjutan Reog

Setelah wafatnya Ki Ageng Ketut Suryo Alam, kesenian ini dilanjutkan oleh Ki Ageng Mirah pada era pemerintahan bupati pertama Ponorogo, Bathoro Katong.

Di masa ini, narasi dalam Reog mengalami perubahan menjadi kisah Panji dan konflik antara kerajaan Kediri dan Bantar Angin, sehingga lebih menonjolksn sisi heroik dan epik.

Saat ini, kesenian Reog Ponorogo telah menjadi identitas budaya Ponorogo dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Namun, akar filosofis dan sejarah yang menjadikannya sebagai bentuk kritik terhadap Raja Majapahit tetap menjadi warisan berharga yang mengandung makna mendalam. (RIZMA)

Editor : Martda Vadetya
#reog ponorogo #Bhre Kertabumi #sindiran #kritik #seni tradisional #kerajaan majapahit #prajurit