JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kejayaannya sering disebut sebagai puncak peradaban klasik Indonesia sebelum kedatangan kolonialisme Eropa.
Namun, sebagian besar informasi yang kita miliki tentang Majapahit tidak berasal dari catatan asing atau arkeologi semata, melainkan dari kitab-kitab kuno peninggalan sastra Jawa seperti Negarakertagama, Pararaton, dan beberapa prasasti.
Salah satu sumber utama mengenai Majapahit adalah kitab Negarakertagama, sebuah kakawin yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
Kitab ini memuji kejayaan Raja Hayam Wuruk dan menyebutkan daftar panjang wilayah kekuasaan Majapahit, mulai dari Sumatra hingga Papua.
Namun, para sejarawan sepakat bahwa Negarakertagama lebih bersifat panegirik (pujian kepada raja) dan penuh idealisasi. Tujuan penulisannya bukan semata merekam fakta, tetapi juga memperkuat legitimasi kekuasaan raja.
Meskipun demikian, kitab ini tetap sangat penting karena menyimpan banyak informasi geografis, administratif, dan budaya.
Sumber lainnya adalah Pararaton, atau lebih dikenal sebagai Kitab Raja-Raja. Kitab ini berisikan cerita sejarah yang bercampur dengan unsur mitos serta legenda, termasuk kisah Ken Arok, leluhur dinasti Majapahit.
Meskipun beberapa bagian dari Pararaton dianggap tidak akurat secara kronologis, kitab ini menyimpan narasi penting tentang suksesi kekuasaan, konflik politik, dan tokoh-tokoh kunci seperti Gajah Mada.
Namun, karena ditulis jauh setelah masa kejayaan Majapahit, Pararaton juga sering dianggap sebagai rekonstruksi sejarah dari sudut pandang politik tertentu, bukan catatan langsung dari peristiwa yang terjadi.
Selain kitab sastra, terdapat juga prasasti dan catatan administratif seperti Prasasti Waringin Pitu dan Sutasoma, yang memberikan informasi faktual mengenai struktur pemerintahan, pajak, dan pembagian wilayah.
Namun, dibandingkan kitab kuno, prasasti-prasasti ini lebih sulit diakses dan jumlahnya terbatas. Mereka lebih bersifat administratif dan tidak menceritakan narasi sejarah secara utuh.
Kitab-kitab kuno Majapahit memiliki kelebihan sebagai sumber sejarah lokal dari dalam budaya itu sendiri. Mereka mencerminkan pandangan dunia masyarakat Jawa klasik, nilai-nilai sosial, dan struktur kekuasaan.
Namun, dari sudut pandang sejarah modern, kitab-kitab ini tidak selalu akurat secara kronologis, mengandung unsur simbolik dan mitologis, serta sering ditulis untuk kepentingan kekuasaan.
Oleh karena itu, para sejarawan harus mengkritisi dan mengkonfirmasi isi kitab tersebut dengan bukti lain, seperti arkeologi, prasasti, dan perbandingan lintas sumber.
Kitab-kitab kuno seperti Negarakertagama dan Pararaton bukan sekadar karya sastra masa lampau, melainkan pintu masuk penting untuk memahami peradaban besar Majapahit dari sudut pandang orang-orang pada zamannya.
Meskipun mengandung unsur mitos, simbolisme, dan idealisasi kekuasaan, teks-teks ini tetap memiliki nilai historis yang tak ternilai jika dibaca secara kritis dan kontekstual.
Menelusuri isi kitab-kitab tersebut tidak hanya membantu merekonstruksi sejarah Majapahit, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah disusun, dimaknai, dan diwariskan dalam budaya Jawa klasik.
Untuk benar-benar memahami sejarah Majapahit, kita perlu menggabungkan pendekatan sastra, arkeologi, dan historiografi modern, agar dapat membedakan mana yang fakta, mana yang interpretasi, dan mana yang mitos.
Dengan demikian, pencarian terhadap “sejarah Majapahit yang sesungguhnya” bukanlah tentang menemukan kebenaran Tunggal, melainkan membangun pemahaman yang lebih utuh, kaya, serta berimbang terhadap salah satu peradaban terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. (NIYA)
Editor : Martda Vadetya