JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal tidak hanya karena keberhasilannya dalam menyatukan Nusantara, tetapi juga karena warisan kebudayaannya yang luar biasa, terutama dalam bidang bahasa dan sastra.
Salah satu peninggalan intelektual yang paling menonjol dari masa ini adalah penggunaan Bahasa Kawi dan lahirnya berbagai karya sastra adiluhung.
Bahasa Kawi dan karya sastra yang dihasilkan menjadi bukti kejayaan intelektual leluhur yang mencerminkan kedalaman pemikiran, nilai-nilai moral, dan kekayaan budaya pada masa itu.
Bahasa Kawi adalah bentuk bahasa Jawa Kuno yang banyak digunakan dalam penulisan karya sastra, prasasti, dan dokumen kerajaan.
Kata “Kawi” sendiri berarti "puitis" atau "sastra", mencerminkan fungsi utamanya sebagai bahasa literatur dan keagamaan. Penggunaan Bahasa Kawi tersebar luas di kalangan istana, pendeta, dan cendekiawan.
Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi merupakan simbol status, pengetahuan, dan kedalaman intelektual. Dalam berbagai teks, seperti kakawin (puisi epik) dan kidung (puisi tembang), Bahasa Kawi mampu menyampaikan gagasan filosofis dan ajaran moral secara halus dan penuh keindahan.
Zaman Majapahit melahirkan banyak karya sastra monumental. Beberapa di antaranya masih dipelajari hingga kini sebagai warisan literasi dan filsafat budaya.
Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa para pujangga Majapahit memiliki wawasan luas, tidak hanya dalam aspek sastra, tetapi juga dalam ilmu agama, hukum, dan politik.
Beberapa karya penting dari masa Majapahit antara lain:
- Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca
Sebuah puisi epik berbahasa Kawi yang memuat sejarah, tata pemerintahan, dan wilayah kekuasaan Majapahit. Karya ini juga memuat nilai toleransi dan kesatuan Nusantara. - Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular
Karya sastra religius yang mengajarkan ajaran moral dan spiritual, sekaligus memperkenalkan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" — cikal bakal semboyan negara Indonesia. - Kidung Harsawijaya, Kidung Sunda, dan karya-karya lain
Mengangkat kisah sejarah, kepahlawanan, dan kritik sosial melalui bahasa yang indah dan sarat makna.
Sastra Majapahit tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat.
Sastra Majapahit mengandung berbagai nilai luhur yang memperkaya peradaban, antara lain:
- Toleransi beragama
Seperti yang tergambar dalam Sutasoma, di mana ajaran Hindu dan Buddha digambarkan harmonis. - Kebijaksanaan dan kepemimpinan
Kisah para raja dan tokoh dalam kakawin mengajarkan pentingnya adil, bijaksana, dan rendah hati. - Cinta tanah air dan kesatuan
Penggambaran Nusantara dalam Nagarakretagama menunjukkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap negeri.
Bahasa Kawi dan sastra Majapahit hingga kini masih dipelajari, terutama oleh peneliti, budayawan, dan masyarakat yang peduli terhadap warisan leluhur. Beberapa sekolah dan komunitas budaya mulai mengenalkan kembali Bahasa Kawi melalui lokakarya dan pertunjukan seni.
Di sisi lain, nilai-nilai dalam karya sastra tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern, terutama dalam membangun karakter bangsa yang berbudaya, toleran, dan cinta tanah air.
Bahasa Kawi dan sastra Majapahit merupakan warisan agung yang mencerminkan kecerdasan, spiritualitas, dan kekuatan budaya bangsa Indonesia di masa lampau.
Kejayaan intelektual leluhur yang tertuang dalam karya-karya tersebut menjadi sumber inspirasi tak ternilai bagi generasi masa kini.
Melestarikan dan mempelajari Bahasa Kawi serta sastra Majapahit bukan hanya bentuk penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga langkah untuk memperkuat jati diri bangsa di masa depan. (NIYA)
Editor : Martda Vadetya