JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Kerajaan Majapahit adalah kerajaan besar yang berdiri pada abad ke -13 hingga abad ke-16 di wilayah Nusantara. Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, yang dibantu oleh patih terkenal yakni Gajah Mada.
Namun setelah masalah tersebut Kerajaan Majapahit mengalami berbagai masalah yang menimpanya, baik masalah internal maupun eksternal yang akhirnya menyebabkan keruntuhan.
Pada akhir abad ke-13, pulau Jawa dikuasai oleh Kerajaan Singasari, yang berada di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara. Kertanegara adalah raja yang ambisius, yang berusaha memperluas kekuasaannya ke seluruh Nusantara serta menentang pengaruh kekuasaan Mongol yang tengah berkembang di Asia kala itu.
Pada tahun 1289, Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Yunani mengirim utusan ke Singasari untuk meminta pengakuan kekuasaan dan pembayaran upeti sebagai tanda tunduk. Namun, Kertanegara menolak permintaan tersebut dengan tegas.
Kartanegara mempermalukan utusan Mongol dengan melukai wajah mereka yang kemudian dikirim kembali ke Kubilai Khan. Tindakan tersebut memicu kemarahan Kubilai Khan yang kemudian merencanakan ekspedisi militer ke Jawa untuk menghukum Kertanegara.
Pada tahun 1293, pasukan besar Mongol dikirim ke Jawa untuk menghukum Kertanegara dan menaklukan Singasari. Namun, sebelum pasukan Mongol tiba, Kartanegara sudah tewas dalam pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang Adipati Kediri.
Jayakatwang berhasil merebut kekuasaan di Singasari setelah membunuh Kertanegara pada tahun 1292. Dalam pemberontakan itu, Raden Wijaya menantu Kertanegara, berhasil melarikan diri dari serangan Jayakatwang dan mencari perlindungan ke Madura di bawah Adipati Wiraraja, yang mana kemudian nantinya ia akan merencanakan pembalasan atas kematian Kertanegara.
Kemudian Raden Wijaya berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang dan diberikan izin untuk membuka lahan di hutan Tarik. Di sanalah Raden Wijaya mendirikan sebuah pemukiman baru dan mulai membangun kekuatannya.
Ketika pasukan Mongol tiba di Jawa, Raden Wijaya melihat kesempatan untuk membalas dendam kepada Jayakatwang. Ia bersekutu dengan pasukan Mongol dan bersama-sama menyerang Kediri. Jayakatwang akhirnya berhasil dikalahkan dan ditangkap oleh pasukan gabungan Raden Wijaya dan Mongol.
Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyadari bahwa keberadaan pasukan Mongol di Jawa adalah ancaman baginya. Singkat cerita, setelah berhasil mengusir pasukan Mongol, Raden Wijaya kemudian dinobatkan sebagai raja pertama majapahit pada tanggal 10 November 1293. Dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, dan menandai awal dari berdirinya sebuah kerajaan baru.
Kerajaan Majapahit didirikan di wilayah yang sebelumnya dibuka di hutan Tarik, di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur. Penamaan Majapahit atau wilayah Wilwatikta, berasal dari buah maja yang banyak ditemukan dari daerah tersebut.
Buah maja ini, ketika dimakan, memiliki rasa yang pahit. Wilwa, yang berarti buah maja, dan Tikta, berarti pahit, sehingga nama Majapahit mengandung arti “Buah Maja yang Pahit”.
Raden Wijaya meninggal pada tahun 1903, ia dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping, Blitar, sebagai Harihara, atau perbaduan Wisnu dan Siwa. Raden Wijaya, Majapahit mengalami masa transisi yang penuh perolakan, ditambah, Jayanegara bukanlah pemimpin yang kuat seperti ayahnya.
Jayanegara dikenal sebagai raja yang lemah dan mudah dipengaruhi oleh pejabat istana, hal ini memicu pemberontakan Rakuti, anggota Dharmaputra yang didirikan oleh Raden Wijaya. Dalam kitab Pararaton, Dharmputra di artikan sebagai pegawai Istimewa yang disangai raja. Sebagai pemimpin dari Dharmaputra, Ra Kuti mengajak anggotanya bergang dan pemberontakan.
Di tengah situasi yang penting itu, Gajah Mada yang masih seorang panglima Bhayangkara, menunjukkan loyalitasnya dengan menyelamatkan Jayanegara untuk melarikan diri di desa Badander.
Setelah mengamankan Jayanegara, Gajah Mada lalu meminta dukungan dari rakyat untuk memadamkan pemberontakan Ra Kuti. Setelah mengumpulkan dukungan, Gajah Mada segera melakukan penyerangan terhadap Ra Kuti dan pasukannya. Pemberontakan Ra Kuti pun berhasil dipadamkan dan Jayanegara dapat kembali berkuasa.
Setelah kematian Jayanegara, tahta Majapahit dipegang oleh Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri Raden Wijaya, yang naik tahta dengan dukungan dari Gajah Mada. Pada masa pemerintahan Tribhuwana, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih (Patih Amangkubumi).
Di masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi pula, Sumpah Palapa dilontarkan Gajah Mada, Tepatnya pada tahun 1336 untuk menyatukan kerajaan-kerajaan Nusantara.
Pada tahun 1351, setelah Tribhuwana turun tahta, putranya, Hayam Wuruk, naik tahta sebagai Raja Majapahit. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah dianggap sebagai puncak dari kejayaan Majapahit.
Salah satu peperangan paling terkenal di masa pemerintahan Hayam Wuruk adalah Perang Bubat yang juga disebut Pasunda Bubat. Ini adalah pertempuran antara bala tentana Raja Sunda dan angkatan perang Majapahit yang berlangsung di alun-alun Bubat, Kawasan Utara Trowulan, ibu kota Majapahit, pada tahun 1357. NIYA
Editor : Imron Arlado