Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Gara-Gara Jadi Sarang Tikus, Candi Era Majapahit Ini Ditemukan

Martda Vadetya • Rabu, 8 Mei 2024 | 03:55 WIB
BERSEJARAH: Candi Tikus merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
BERSEJARAH: Candi Tikus merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

Sejarah Candi Tikus di Trowulan Mojokerto

RADARMAJAPAHIT – Sejumlah situs cagar budaya tinggalan era Hindu-Buddha tersebar di wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Setiap situs punya sejarah tersendiri dibalik penemuannya. Seperti Candi Tikus di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, yang tak sengaja ditemukan karena menjadi sarang tikus.

Dari situ pula asal-usul kata tikus disematakan menjadi nama candi tinggalan era Kerajaan Majapahit tersebut.

Mulanya area Candi Tikus berupa sebuah gundukan tanah dan batu. Warga setempat kerap dibuat resah karena sering diganggu hama tikus yang berasal dari gundukan tersebut.

Hal tersebut terjadi pada tahun 1914. Kala itu Mojokerto masih berada dibawah kekuasaan Hindia Belanda.

Mendengar keresahan warga tersebut, RAA Kromodjoyo Adinegoro IV yang menjabat sebagai bupati, langsung menindak lanjuti hal ini.

Ia segera datang ke lokasi dan menggali gundukan tanah yang menjadi sarang tikus tersebut.

Di tengah penggalian, barulah tampak struktur candi yang selama itu terpendam di bawah tanah.

Seketika itu juga bupati mojokerto melapor ke pemerintah Belanda dan melanjutkan penggalian dengan berhati-hati.

”Candi Tikus ditemukan dan digali oleh warga Desa Temon atas perintah bupati Mojokerto kala itu, RAA Kromodjoyo Adinegoro IV,” ungkap Amel, salah seorang pengunjung Candi Tikus.

KUNJUNGAN: Turis dari manca negara berkunjung ke Candi Tikus untuk memmpelajari peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)
KUNJUNGAN: Turis dari manca negara berkunjung ke Candi Tikus untuk memmpelajari peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit)

Candi Tikus telah mengalamni pemugaran sebanyak empat kali. Pada tahun 1984, 1989, 1992, dan tahun 2007 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala atau kini disebut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPK) wilayah XI Jatim.

Pada tahun 1989 silam candi ini dinyatakan purna pugar yang ditandai upacara peresmian yang dipimpin langsung oleh Dirjen Kebudayaan Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan. Berikut adanya perluasan pada halaman candi.

 

Candi Tikus tersusun dari tiga teras. Teras pertama terdapat delapan buah bangunan candi berukuran sedang.

teras kedua terdapat candi induk yang dikelilingi delapan buah candi lainnya yang berukuran kecil.

Sekeliling pondasi candi terdapat hiasan kepala makara dan kuncup bunga padma yang terbuat dari batu kali.

Candi yang menghadap ke utara ini tersusun dari batu bata merah dengan panjang 22,5 meter dan lebar 22,5 meter serta kedalaman 3,5 meter dibawah permukaan tanah.

Candi Tikus merupakan pertirtaan di mana airnya diyakini sebagai air suci.

Kini, Candi Tikus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Harga tiket masuknya dibanderol Rp 4 ribu dan anak-anak dibanderol Rp 2 ribu dengan jam buka mulai pukul 07.00 hingga 16.00.

”Untuk masuk kesini harus mengisi daftar tamu dan membayar tiket retribusi terlebih dahulu. Pengunjung yang datang juga jauh ada yang dari Malang, Sidoarjo, Mojokerto hingga mancanegara,” pungkas Amel. (zukria amelia)

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #cagar budaya #mojokerto #candi tikus #majapahit #trowulan