Tahu Tek: Kuliner Malam yang Menyatukan Sambal Kacang dan Anak Band

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:45 WIB
TAHU TEK GEN Z : Abi melayani pembeli saat malam hari di Dawarblandong jumat 4/9.(foto: Sofanka/diolah desain digital)
TAHU TEK GEN Z : Abi melayani pembeli saat malam hari di Dawarblandong jumat 4/9.(foto: Sofanka/diolah desain digital)

DAWARBLANDONG-Ada makanan yang bisa dimakan kapan saja. Nasi goreng, misalnya. Mau pagi, siang, sore, bahkan tengah malam, nasi goreng tidak akan menuntut banyak penjelasan. 

Tapi tahu tek punya aturan tidak tertulis.
Makanan khas Dawarblandong, Mojokerto, ini rasanya memang paling masuk akal disantap ketika malam mulai turun. Makan tahu tek saat siang bolong mungkin tidak membuat dosa, tetapi entah kenapa rasanya seperti sedang melanggar kesepakatan bersama.

Apalagi kalau disantap ketika udara mulai dingin, lampu jalan mulai menyala, dan perut mulai mengirimkan sinyal bahwa ia tidak bisa diajak kompromi.

Di Raya Pulorejo Dawar, Mojokerto, salah satu orang yang memahami betul urusan per-tahu-tek-an itu adalah Abi, 28 tahun.

Yang menarik, Abi sebenarnya bukan pedagang yang sejak awal bercita-cita menghabiskan malam bersama cobek, tahu dan sambal kacang.
Ia adalah anak band.

Abi seorang drumer. Tangannya biasa memukul drum, mengatur tempo, dan menjaga agar sebuah lagu tidak kehilangan irama. Namun ketika malam datang, tangannya berpindah profesi: mengulek bumbu tahu tek.

Kalau diperhatikan, gaya Abi saat mengulek sambal pun terlihat seperti orang yang punya hubungan serius dengan musik. Ada tempo. Ada ritme. Ada tenaga. Bedanya, kalau di atas panggung ia menghasilkan musik, di depan gerobak ia menghasilkan tahu tek.

Bahan-bahannya sebenarnya sederhana.
Tahu dipotong-potong, lalu bertemu irisan lontong. Setelah itu disiram sambal kacang yang menjadi jantung dari makanan ini. Sedikit mentimun ditambahkan untuk memberi sensasi segar, sebelum semuanya ditaburi kerupuk.

Kalau ingin versi lebih spesial, tinggal tambahkan telur.

Sederhana memang. Tapi jangan tertipu kesederhanaan itu. Perpaduan tahu, lontong, sambal kacang, mentimun dan kerupuk punya kemampuan yang cukup serius untuk membuat orang mendadak lupa bahwa sebelumnya cuma berniat membeli makanan ringan.

Apalagi ketika sambal kacangnya sudah menyelimuti tahu dan lontong. Di situlah tahu tek berhenti menjadi sekadar makanan tetapi ingatan, ingat tentang rasa dan suasana.

Abi hampir setiap malam berjualan tahu tek di kawasan Raya Pulorejo Dawar. Di sela aktivitasnya sebagai anak band, ia memilih tetap tekun menjalani profesi sebagai pedagang.

Barangkali inilah salah satu wajah Gen Z yang
Bukan cuma ngopi, bikin konten, atau mengejar tren. Ada juga anak muda yang malam-malamnya dihabiskan untuk mengulek bumbu, melayani pembeli, lalu pulang membawa harapan yang jauh lebih besar daripada sekadar uang hasil jualan malam itu.

Abi menjalani dua dunia sekaligus.
Di satu sisi, ada drum, panggung dan musik. Di sisi lain, ada tahu, lontong, cobek dan sambal kacang.

Keduanya mungkin terlihat seperti dua kehidupan yang sama sekali tidak berhubungan. Namun bagi Abi, semuanya punya tujuan yang sama: masa depan anak dan keluarganya.(*sofan Kurniawan)
Editor : Sofan Kurniawan
khas mojokerto jawa timur kuliner jawa