Integrasi antara struktur bangunan dan kondisi alam menjadi salah satu karakter kuat Candi Gajah Panji. Bentuk tersebut memperlihatkan bagaimana konstruksi situs disesuaikan dengan lingkungan pegunungan sebagai bagian dari konsep spiritual pada masa akhir Majapahit.
Secara arsitektural, Candi Gajah Panji memiliki struktur tangga kembar yang simetris di sisi kanan dan kiri. Tangga tersebut berfungsi sebagai jalur sirkulasi vertikal menuju titik fokus spiritual utama di bagian situs.
Pada titik tersebut terdapat sebuah panel batu monolitik berukuran besar yang dihiasi relief figur Raden Panji sedang menunggangi seekor gajah.
Keberadaan relief tersebut menjadi bagian penting dari karakter ikonografi Candi Gajah Panji. Figur Panji yang ditampilkan bersama gajah memperlihatkan perpaduan antara simbol lokal dan narasi yang berkembang pada masa akhir Majapahit.
Dalam pemaknaan simbolis, gajah dikaitkan dengan kekuatan dan kebijaksanaan. Sementara kisah Panji dapat menjadi media yang berkaitan dengan legitimasi kekuasaan, ajaran moral, maupun ritual ruwatan dalam tradisi spiritual Jawa kuno.
Candi Gajah Panji dengan demikian tidak hanya memperlihatkan bentuk arsitektur punden berundak, tetapi juga menggambarkan keterkaitan antara lanskap gunung, bangunan, relief, serta gagasan spiritual yang berkembang pada masa akhir Majapahit.
Keberadaan situs di lereng Gunung Kemuncup turut memperlihatkan bagaimana kawasan Gunung Pawitra menjadi bagian dari ruang sakral yang menghadirkan perpaduan antara alam dan ekspresi budaya masyarakat pada masa tersebut. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : BPK Wilayah Jatim