RADAR MAJAPAHIT — Berdiri megah di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), Candi Cetho menyuguhkan pemandangan spiritual yang unik di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Hindu peninggalan era akhir Kerajaan Majapahit pada abad ke-15 Masehi ini menarik perhatian peneliti dan wisatawan karena tata letak bangunannya yang berundak menghadap langsung ke puncak gunung.
Candi Cetho memiliki struktur arsitektur berundak yang terdiri dari 13 teras. Pola ini memadukan fungsi religius sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa dan lokasi pertapaan, sekaligus memiliki perhitungan fungsi astronomis yang selaras dengan alam sekitar. Keberadaan relief wayang serta simbol spiritual lingga-yoni hingga saat ini masih aktif digunakan oleh masyarakat setempat untuk berbagai ritual keagamaan.
Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI mencatat, keberadaan situs ini memiliki peran sentral dalam sejarah kebudayaan Nusantara, khususnya pada masa transisi pasca-runtuhnya kekuatan Majapahit. "Candi Cetho merupakan salah satu situs paling krusial untuk memahami dinamika transisi kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa bagian tengah dan timur. Struktur punden berundak yang memadukan simbolisme Hindu dengan arsitektur lokal asli Nusantara menunjukkan betapa kuatnya adaptasi tradisi spiritual pada akhir masa Majapahit," ujar perwakilan Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI dalam ulasannya.
Meski menjadi aset sejarah yang penting, keutuhan wujud asli Candi Cetho tak lepas dari perdebatan di kalangan sejarawan dan arkeolog. Pemugaran yang dilakukan sejak era kolonial hingga pemugaran kontroversial pada era 1970-an dinilai mengubah sebagian struktur aslinya.
"Sejarah pemugaran Candi Cetho memang cukup kompleks. Rekonstruksi awal oleh Van der Vlis pada tahun 1928, yang kemudian dilanjutkan dengan penataan besar-besaran pada dekade 1970-an, memberikan tantangan tersendiri dalam memvalidasi keaslian beberapa elemen fisiknya. Namun, pemugaran tersebut tidak mengurangi nilai substansial Candi Cetho sebagai lanskap budaya dan ruang hidup spiritual yang terus lestari hingga hari ini," tambah pihak Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI.
Kini, Candi Cetho tidak hanya berfungsi sebagai situs cagar budaya yang dilindungi, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah dan ruang ritual aktif yang terus menjaga keberlanjutan tradisi lokal di lereng Gunung Lawu. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI