Jejak Pembangunan Candi Penataran, dari Masa Kadiri hingga Majapahit

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:02 WIB
RELIEF: Alat musik gamelan gambang pada panel Candi Penataran tahun 1297 Saka (1375 M).
RELIEF: Alat musik gamelan gambang pada panel Candi Penataran tahun 1297 Saka (1375 M).

 RADAR MAJAPAHIT — Candi Penataran merupakan kompleks percandian yang memiliki sejarah panjang. Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, pembangunan Candi Penataran diduga telah dimulai pada masa Kerajaan Kadiri dan berlanjut melalui beberapa masa pemerintahan raja Majapahit.

Jejak awal keberadaan Candi Penataran dikaitkan dengan Prasasti Palah yang berasal dari tahun 1197 Saka. Prasasti tersebut dikeluarkan atas nama Raja Sringa dan menjadi salah satu petunjuk mengenai keberadaan Candi Penataran pada masa Kerajaan Kadiri.

“Candi Penataran diduga dibangun pada masa Kerajaan Kadiri yang dapat dilihat pada Prasasti Palah yang berasal dari tahun 1197 Saka yang dikeluarkan atas nama Raja Sringa,” demikian keterangan BPK Wilayah Jawa Timur.

Kompleks Candi Penataran kemudian mengalami perbaikan dan pembangunan kembali pada masa Kerajaan Majapahit. Salah satu jejaknya terlihat pada masa pemerintahan Raja Jayanagara yang berlangsung pada 1309 hingga 1328 Masehi.

Pada masa tersebut terdapat dua Dwarapala atau penjaga pintu di gerbang masuk kompleks Candi Penataran. Kedua Dwarapala tersebut memiliki angka tahun 1242 Saka atau 1320 Masehi.

Pembangunan dan perbaikan kompleks kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi yang berlangsung pada 1328 hingga 1350 Masehi. Jejak masa tersebut dapat dilihat dari Dwarapala yang berada di candi induk.

“Dilanjutkan oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) yang dapat dilihat dari adanya Dwarapala candi induk semuanya berangka tahun 1239 Saka (1347 Masehi),” tulis BPK Wilayah XI Jawa Timur.

Perkembangan kompleks Candi Penataran kembali berlanjut pada masa pemerintahan Rājasawarddhana Dyah Hayam Wuruk yang memerintah pada 1350 hingga 1389.

Pada masa Hayam Wuruk, dilakukan perbaikan dan pembangunan sejumlah bagian kompleks. Salah satu peninggalannya adalah Candi Angka Tahun yang memiliki angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi.

“Selanjutnya pada masa Rājasawarddhana dyah Hayam Wuruk (1350-1389) dilakukan perbaikan dan pembangunan dengan adanya Candi Angka Tahun 1291 Śaka (1369 Masehi),” demikian keterangan BPK Wilayah Jawa Timur.

Rangkaian angka tahun tersebut menunjukkan bahwa Candi Penataran tidak dibangun dalam satu masa pemerintahan. Kompleks ini mengalami pembangunan dan perbaikan secara bertahap, mulai dari masa Kerajaan Kadiri hingga periode Majapahit.

WARISAN BUDAYA: Kopleks Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jatim/Adhi hendrana Jayawardhana)
WARISAN BUDAYA: Kopleks Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jatim/Adhi hendrana Jayawardhana)

Jika menggunakan catatan tahun 1197 Saka sebagai jejak awal yang disebut dalam catatan BPK Wilayah Jawa Timur, keberadaan Candi Penataran setidaknya telah berusia lebih dari delapan abad. Perjalanan panjang tersebut terlihat dari berbagai bagian bangunan yang memiliki penanda tahun berbeda dan berasal dari masa pemerintahan yang berbeda pula. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : BPK Wilayah Jatim
Kemenbud RI BPK Wilayah Jatim candi penataran