Mengungkap Jejak Majapahit di Candi Tegowangi Kediri, Tempat Pendharmaan Bhre Matahun

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:01 WIB
SITUS SEJARAH: Candi Tegowangi di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu jejak sejarah peninggalan masa Kerajaan Majapahit. (Foto: BPK Wilayah Jatim)
SITUS SEJARAH: Candi Tegowangi di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu jejak sejarah peninggalan masa Kerajaan Majapahit. (Foto: BPK Wilayah Jatim)

RADAR MAJAPAHIT - Situs sejarah Candi Tegowangi di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu jejak sejarah peninggalan era Kerajaan Majapahit. Bangunan suci ini diyakini kuat sebagai tempat pendharmaan bagi Bhre Matahun.

Berdasarkan kajian terhadap data tekstual, nama Tegowangi tercatat di dalam Kitab Pararaton sebagai lokasi pendharmaan Bhre Matahun usai menjalani prosesi penyucian atau penobatan (abhiseka) di Kusumapura. Penentuan era pembangunan monumen ini diperoleh setelah memadukan catatan Pararaton dengan Kitab Nagarakrtagama. Tercatat, Bhre Matahun wafat pada tahun 1310 Saka atau 1388 Masehi.

​Sesuai tradisi Majapahit, monumen pendharmaan umumnya didirikan 12 tahun pascamangkatnya seorang tokoh kerajaan melalui ritual sraddha. Atas dasar kalkulasi tersebut, Candi Tegowangi diperkirakan resmi dibangun pada tahun 1322 Saka atau sekitar 1400 Masehi. "Maka diperkirakan candi ini dibuat pada tahun 1400 M pada masa kerajaan Majapahit karena pendharmaan seorang raja akan dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan melalui serangkaian upacara sraddha," tulis ​Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur pada laman resminya.

Arsitektur dan Relief Kisah Sudamala
Dari segi tata ruang dan arsitektur, Candi Tegowangi didirikan di atas denah persegi berukuran 11,2 x 11,2 meter dengan total ketinggian 4,35 meter serta menghadap ke arah barat. Pondasi utamanya tersusun dari material bata, sementara bagian kaki hingga sisa dinding tubuh candi memanfaatkan batu andesit.
Pada struktur kaki candi dua tingkat, terdapat hiasan tiga panel tegak di setiap sisinya yang menampilkan ukiran raksasa (gana) berposisi jongkok dengan kedua tangan terangkat seolah menyangga bangunan. Di atasnya melingkar tonjolan-tonjolan berukir yang dipadukan dengan ornamentasi sisi genta.
Pada bagian badan candi, berdiri pilar-pilar polos yang tampak belum selesai dikerjakan sebagai penghubung antara struktur kaki dan tubuh. Dinding luar tubuh candi dihiasi 14 panel relief yang memuat lakon Sudamala—terdiri dari 8 panel di sisi barat serta masing-masing 3 panel di sisi utara dan selatan. Relief ini mengisahkan pengeruatan Dewi Durga dari wujud raksasa jahat kembali menjadi Dewi Uma yang anggun oleh Sadewa, tokoh bungsu Pandawa.
BPK Wilayah Jawa Timur menguraikan bahwa ornamen dan artefak di lokasi tersebut mempertegas latar belakang keagamaan situs ini. "Di halaman candi terdapat beberapa arca yaitu Parwati Ardhenari, Garuda berbadan manusia dan sisa candi di sudut tenggara. Berdasarkan arca-arca yang ditemukan dan adanya Yoni dibilik candi maka candi ini berlatar belakang agama Hindu," terang BPK Wilayah Jawa Timur. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : BPK Wilayah Jatim
Kemenbud RI BPK Wilayah Jatim majapahit kediri