Candi Jawi, Kemegahan Peninggalan Singhasari di Kaki Welirang

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:38 WIB
WARISAN SEJARAH: Bangunan Candi Jawi yang dibangun di masa Kerajaan Singhasari di kaki Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur/Adhi Hendrana Jayawardhana)
WARISAN SEJARAH: Bangunan Candi Jawi yang dibangun di masa Kerajaan Singhasari di kaki Gunung Welirang, Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur/Adhi Hendrana Jayawardhana)

RADAR MAJAPAHIT – Candi Jawi menjadi salah satu peninggalan penting Kerajaan Singhasari abad ke-13 yang berdiri di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Terletak di Kaki Gunung Welirang, candi bercorak Hindu-Buddha ini berdiri megah dengan ketinggian mencapai hampir 25 meter.

Berdasarkan data dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, Candi Jawi memiliki ciri arsitektur yang khas. Candi ini memiliki bentuk tubuh yang tinggi dan ramping.

Keunikan lain ada pada material bangunannya. Bagian kaki candi menggunakan batu andesit, sementara atap bertingkat tiga dengan puncak stupa terbuat dari batu putih. 

Perbedaan ini diduga karena adanya pemugaran. "Atap candi terdiri dari tiga tingkat dengan puncak berbentuk stupa. Bagian atap terbuat dari batu putih, berbeda dengan kaki candi yang terbuat dari batu andesit," tulis BPK Wilayah Jatim di laman resminya.

Hal ini diduga karena adanya perbaikan. Dalam kitab Negarakertagama memang disebutkan bahwa Candi Jawi pernah tersambar petir.

SIMBOL SAKRAL: Sepasang lingga dan yoni yabt berada di relung Candi Jawi, Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur)
SIMBOL SAKRAL: Sepasang lingga dan yoni yabt berada di relung Candi Jawi, Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur)

 Simbol Hindu dan Buddha Menyatu

BPK Jatim juga mencatat beragam ornamen yang menghiasi candi. Unsur Hindu tampak pada relief kepala kala, makara, dan gana yang berfungsi sebagai penjaga bangunan suci. "Candi Jawi dihiasi dengan berbagai macam relief dan arca. Pada bagian kaki dan tubuh candi terdapat relief kepala kala, makara, dan gana," sebut BPK Jatim.

Di dalam bilik candi ditemukan yoni dengan relief naga di bawah ceratnya. Selain itu juga terdapat arca Tri Murti, Lembu Nandi, Dewi Durga, serta relief kaki di bagian atap. Kini sebagian besar arca tersebut telah dipindahkan ke Museum Cungrang untuk pengamanan.

Sementara unsur Buddha terlihat dari bentuk puncak candi berupa stupa atau dagoba. BPK Jatim menjelaskan makna stupa tersebut. "Stupa dalam agama Buddha merupakan bangunan suci yang berbentuk lonceng. Stupa melambangkan perjalanan hidup manusia menuju pencerahan dan nirwana," tulisnya.

Di sisi barat daya kompleks juga terdapat sisa gapura bentar. BPK Jatim menyebut gapura ini sebagai penanda batas sakral. "Di kompleks Candi Jawi terdapat gapura bentar yang terletak di sisi barat daya. Gapura ini berorientasi timur-barat dan terbuat dari bata dengan anak tangga dari batu andesit," demikian keterangan BPK Jatim.

Hingga kini Candi Jawi tidak hanya menjadi objek wisata sejarah, tetapi juga bukti toleransi dan akulturasi budaya Hindu-Buddha di masa Kerajaan Singhasari. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : BPK Wikayah Jawa Timur
Kemenbud RI BPK Wilayah Jatim jawa timur singhasari