RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Makam Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu di Lingkungan Cinde, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, menjadi makam yang disakralkan masyarakat setempat.
Meski kedua makam ini tidak dalam area yang sama, tetapi masih dalam satu kelurahan. Makam Mbah Cinde Amoh terdapat sebuah bangunan khusus. Sedangkan Makam Mbah Sabuk Alu bangunan makamnya di tengah tempat pemakaman umum (TPU) Prajurit Kulon. Makamnya kini dilestarikan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prajurit Kulon.
Ihsan, anggota Pokdarwis Kelurahan Prajurit Kulon, menceritakan, sejarah berawal dari tahun 1815, pada saat Kerajaan Mataram mengalami konflik dengan Belanda. Banyak prajurit kerajaan yang mati dan melarikan diri. Di antaranya, Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu. Mereka dan tujuh orang lainnya melarikan diri menyusuri sungai dan pergi ke arah timur.
Kemudian, sampai di pelabuhan Canggu dan menemukan daerah yang masih berupa rawa. Mereka lantas bertemu dengan banyak orang yang memiliki tekad melawan Belanda. ”Mereka membuat pedepokan yang diprakarsai Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu,” kata Ihsan, Rabu (17/1).
Namun, lanjut Ihsan, selama pelarian, persembunyian Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu di sebuah padepokan diketahui Belanda. Kemudian Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu menyusun strategi untuk melawan Belanda. ”Perang terjadi di area barat, dan karena perang itu, sekarang disebut daerah Tempuran,” tambahnya.
Mbah Cinde Amoh dan Mbah Sabuk Alu kemudian babah desa yang dinamai Prajurit Kulon. Kini, nama lingkungan yang ada di Kelurahan Prajurit Kulon berkaitan dengan dua tokoh tersebut. ”Di sini ada lingkungan Cinde dari nama Mbah Cinde, Lingkungan Sabuk dari nama Mbah Sabuk, Lingkungan Jayeng yang bearti ketenangan. Sedangkan Lingkungan Prajurit Kulon dari nama kedua tokoh yang merupakah seorang prajurit yang datang dari wilayah kulon,” jelasnya.
Nama Mbah Cinde Amoh berasal dari kata cinde yang berarti selendang, amoh berarti rusak. Jadi, kata Ihsan, saat melawan Belanda Mbah Cinde Amoh tetap memakai selendang rusak. Sedangkan nama Mbah Sabuk Alu, berasal dari kata sabuk atau ikat pinggang, dan alu yakni pohon kelapa. ”Karena kedua tokoh memiliki kemampuan khusus. Jadi mereka bisa bertahan dari serangan Belanda,” ujarnya.
Makamnya kini dijaga dengan baik dan terdapat kegiatan rutin. Seperti gelar macapat di malam Jumat Pon dan istigasah setiap malam Sabtu Legi. ”Anggota yang mengikuti acara rutin macapat berasal dari Mojokerto, Surabaya, Pandaan dan Jombang,” pungkasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris